KENDARI – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Koalisi Mahasiswa Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Senin, 11 Mei 2026.
Massa mendesak Kepala Kejati Sultra, Sugeng Riyanta, mengusut dugaan keterlibatan Bupati Bombana, Burhanuddin, dalam kasus korupsi proyek pembangunan Jembatan Cirauci II di Kabupaten Buton Utara (Butur) tahun anggaran 2021.
Tantang Kajati Jerat Elit Politik
Koordinator Gerakan Koalisi Mahasiswa Sultra, Malik Botom, menegaskan Burhanuddin harus dimintai pertanggungjawaban atas dugaan kerugian negara dalam proyek tersebut. Saat proyek berjalan, Burhanuddin menjabat sebagai Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Bina Marga Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Kami menantang Kajati Sultra yang baru untuk menjerat elit-elit politik, dalam hal ini Bupati Bombana, yang diduga terlibat tindak pidana korupsi,” tegas Malik dalam orasinya.
Ia membeberkan, Pemerintah Provinsi Sultra melalui Dinas SDA dan Bina Marga mengalokasikan anggaran lebih dari Rp2 miliar untuk pembangunan Jembatan Cirauci II pada 2021. Namun, pelaksanaan proyek diduga bermasalah dan menimbulkan kerugian negara senilai Rp647,8 juta.
Desak Penetapan Tersangka
Dalam perkara itu, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Kendari telah memvonis dua terdakwa berinisial R dan TUS. Keduanya masing-masing divonis tiga tahun penjara.
Malik mendesak penyidik Kejati Sultra segera menetapkan Burhanuddin sebagai tersangka. Menurutnya, peran Burhanuddin tidak dapat dipisahkan dari rangkaian peristiwa yang menyebabkan kerugian negara.
“Karena perannya yang dominan dan tidak terpisahkan dari rangkaian peristiwa yang menimbulkan kerugian negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, posisi Burhanuddin saat itu sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memberinya kewenangan strategis dalam pelaksanaan proyek Jembatan Cirauci II.
Aksi Simbolik Tikus dan Ayam Sembelihan
Pantauan di lokasi, sekitar pukul 13.00 WITA massa masih berorasi menggunakan pengeras suara di atas mobil tronton. Sebagai bentuk protes, demonstran melepas tikus dan memotong ayam tepat di depan kantor Kejati Sultra.
Hingga pukul 14.30 WITA, tidak ada satu pun perwakilan Kejati Sultra yang menemui massa aksi.(lin)
















