KENDARI – Koalisi Aktivis Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar aksi unjuk rasa jilid II di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sultra, Kamis 9 Juli 2026.
Aksi tersebut merupakan kelanjutan tuntutan atas kaburnya 11 tahanan dari Rumah Tahanan (Rutan) Polres Kolaka Utara beberapa waktu lalu. Para demonstran mendesak Kapolres Kolaka Utara dicopot dari jabatannya.
Desak Evaluasi Total Sistem Pengamanan
Aksi ini diinisiasi gabungan organisasi yang terdiri dari Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Sultra, Anti-Corruption Women’s Forum, SAC, Konsorsium Aktivis Nasional (KORAN) Sultra, Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (GEMPUR) Sultra, dan Mahasiswa Peduli (MAP) Hukum Sultra.
Koordinator Wilayah AMAN Sultra, Firman Adhyaksa, menilai insiden tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam fungsi pengawasan dan kontrol internal di Polres Kolaka Utara.
“Ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan bobol totalnya sistem pengamanan. Bagaimana mungkin 11 tahanan bisa kabur bersama-sama, merusak teralis, dan membuat tangga manusia tanpa terdeteksi sama sekali? Oleh karena itu, demi menjaga marwah kepolisian, Kapolda Sultra harus segera mengambil tindakan tegas dengan mencopot Kapolres Kolaka Utara sekarang juga,” kata Firman Adhyaksa.
Soroti Cara Pelarian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para tahanan melarikan diri dengan cara membobol ventilasi di bilik jemuran. Mereka juga membuat tangga manusia untuk mencapai ventilasi, menggunakan selang air untuk memanjat, hingga menyambung kain sarung salat menjadi tali untuk turun dari rutan.
Direktur Eksekutif Anti-Corruption Women’s Forum, Sazkyha Pratiwi Sakir, menyoroti kegagalan sistem pengawasan di Rutan Polres Kolaka Utara.
“Ventilasi dibobol tapi tidak ada satu pun mata yang melihat. Sistem di sana bocor. Rutan itu tempat penahanan, bukan tempat rekreasi. Rakyat tidak butuh alasan berbelit-belit, rakyat butuh jaminan keamanan. Evaluasi total harus dilakukan melalui pencopotan Kapolres Kolaka Utara,” ujar Sazkyha.
Aksi Berakhir dengan Doa Bersama
Secara umum aksi berlangsung tertib, aman, dan kondusif di bawah pengawalan aparat kepolisian.
Usai menyampaikan tuntutan di depan gerbang Mapolda, massa aksi kemudian bergerak menuju pelataran Masjid Mapolda Sultra. Demonstrasi ditutup dengan doa bersama secara khidmat.
Doa tersebut dipanjatkan agar institusi kepolisian di wilayah hukum Sulawesi Tenggara dapat segera berbenah, mengevaluasi kelalaian secara objektif, dan kembali memberikan rasa aman kepada masyarakat.(red)
















