BAUBAU —Mata Azmar tak lagi bisa melihat. Pemuda 20 tahun itu kehilangan penglihatannya secara permanen setelah dibacok beramai-ramai di Kilo 5, Baubau. Tragisnya, di tengah luka dan kebutaan yang ia derita, Azmar justru ditetapkan sebagai tersangka. Air mata ibunya pecah: “Anak saya korban, Pak. Bukan pelaku.”
Malam itu Azmar hanya ingin mengantar temannya pulang kampung ke Raha. Ia mampir di Kilo 5 untuk mengambil tas dan mengisi bensin. Di perjalanan, ia terpisah dari temannya. Tanpa ia sadari, beberapa orang bersenjata parang dan samurai membuntutinya sejak SPBU Kilo 4.
Kejar-kejaran pun terjadi. Di depan warung bensin eceran Kilo 5, motor Azmar dihantam hingga terpental. Saat tubuhnya tergeletak, 8-10 orang mengeroyoknya. Bacokan menghujani tubuh. Satu sabetan keras menghantam matanya.
Dengan sisa tenaga, Azmar mengetuk pintu warga untuk minta tolong. Tak ada yang berani buka. Pelaku masih berdiri dengan senjata teracung. Ia akhirnya berhasil diselamatkan warga lain.
Dokter memvonis: retina matanya rusak total. Penglihatan Azmar hilang selamanya. Luka di sekujur tubuhnya jadi saksi bisu malam yang merenggut masa depannya.
Pahit bagi keluarga. Laporan mereka ke Polres Baubau justru berbalik. Azmar ditetapkan sebagai tersangka kasus “penganiayaan” di Jembatan Tengah pada April 2026.
“Luka di tangan pelaku itu karena Azmar berusaha merebut parang untuk bertahan. Masa korban yang buta malah jadi tersangka?” ujar sang ayah dengan suara bergetar.
Penderitaan belum selesai. Rumah keluarga dilempari batu hingga atapnya jebol. Sang ayah pun dikeroyok di lokasi berbeda. Rekaman ancaman sudah diserahkan ke polisi, tapi kejelasan hukum tak kunjung datang.
Kasat Reskrim Polres Baubau AKP Gayuh Pambudhi Utomo, S.Tr.K., S.I.K. membenarkan status tersangka Azmar untuk perkara terpisah di Jembatan Tengah.
“Untuk kasus pengeroyokan di Kilo 5, Azmar kami pastikan sebagai korban,” kata Gayuh kepada Tim tim media. Namun saat ditanya soal penahanan Azmar, ia memilih bungkam.
Kini Azmar hidup dalam gelap. Ia tak bisa lagi melihat wajah ibunya, tak bisa lagi bekerja. Keluarga hanya punya satu permintaan: keadilan.
“Kami tidak minta balas dendam. Kami cuma ingin hukum berpihak pada korban. Anak saya sudah kehilangan mata, jangan hukum juga membutakan kebenaran,” isak sang ibu.
Kasus ini kini jadi sorotan publik. Warga bertanya: bagaimana mungkin korban pengeroyokan berujung buta justru harus berurusan sebagai tersangka?(red)

















