Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Hukrim · 1 Des 2025 12:23 WITA ·

Demo Keluarga Terdakwa BDM, Sebut Peradilan Sesat dan Rekayasa Perkara


 Keluarga BDM, menggelar demo di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Kendari. Foto: Istimewa Perbesar

Keluarga BDM, menggelar demo di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Kendari. Foto: Istimewa

KENDARI – Keluarga terdakwa BDM, kasus dugaan pencabulan anak, menggelar demo di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat, 28 November 2025. Mereka mempertanyakan perkara kerabat mereka yang diduga menjadi korban kriminalisasi aparat penegak hukum (APH).

“Kami duga ini merupakan peradilan sesat yang dipenuhi dengan rekayasa,” ucap orator massa aksi, Agusalim.

Ia menegaskan, dugaan rekayasa perkara dapat dilihat mulai dari penyembunyian hasil visum hingga keterangan saksi yang berubah-ubah.

Kejanggalan pertama adalah hasil visum, kejadian pada 21 November 2025, visum dilakukan keesokan harinya, 22 November 2024. Kepolisian sempat menyatakan adanya bukti visum yang menguatkan tuduhan tapi anehnya di persidangan itu tidak pernah dimunculkan hasil visum.

Permintaan tim kuasa hukum kepada majelis hakim untuk menghadirkan hasil mengisahkan ahli atau bukti baru untuk menjernihkan perkara.

Kejanggalan kedua, keterangan saksi anak atau korban yang berubah. Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian, anak tersebut tidak pernah menyatakan merasakan tonjolan keras atau melihat terdakwa membuka resleting celana. Namun, di persidangan, keterangan tersebut tiba-tiba muncul.

Kejanggalan ketiga adalah mengenai barang bukti pakaian anak yang tidak pernah disita penyidik di awal kasus. Nanti di persidangan baru datang dibawa pakaiannya, sehingga barang bukti itu tidak diketahui disita dari siapa dan apakah benar ada hubungannya dengan perkara.

“Kami menduga bahwa ada indikasi kuat keterlibatan APH yang memiliki kedekatan dengan keluarga korban yang coba untuk mengatur perkara ini,” tegasnya.

Dengan begitu, berdasarkan adanya indikasi rekayasa perkara, keluarga terdakwa meminta Ketua PN Kendari dan Majelis Hakim untuk melanjutkan pemeriksaan perkara berdasarkan pasal 182 ayat (2) KUHAP.

“Kami meminta dihadirkan bukti visum dan dokter forensik yang melakukan visum dan menghadirkan saksi verbalisan penyidik yang memeriksa perkara ini,” jelasnya.

Kemudian, mereka juga meminta agar dilakukan pemeriksaan terhadap polisi yang menangani laporan korban, Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan Majelis Hakim atas dugaan pelanggaran prosedur dan pelanggaran etik.

Artikel ini telah dibaca 76 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Mahkamah Agung Tolak Kasasi Perkara Ijazah Palsu, La Ami Anggota DPRD Kendari Resmi Dipidana

17 Agustus 2026 - 18:25 WITA

Curi Peralatan Bengkel di Rumah Kosong, Pria Bertato di Kendari Diamuk dan Diikat Warga di Pohon

17 Agustus 2026 - 16:03 WITA

Diduga Kuasai Lahan Warga untuk Jetty, PT IPIP dan KUPP Pomalaa Digugat

17 Agustus 2026 - 13:13 WITA

IMALAK Desak Polda Sultra Segera Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Bibit Fiktif Rp26 Miliar

17 Agustus 2026 - 12:53 WITA

Demi Bayar Cicilan Mobil dan Modal Judol, Pria di Kendari Nekat Rampok Tas Karyawan BRILink

16 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Pria di Muna Ditangkap Usai Diduga Begal Perempuan, Polisi Sita Motor dan Ponsel Korban

14 Agustus 2026 - 15:28 WITA

Trending di Hukrim