Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Feature · 18 Agu 2026 09:03 WITA ·

“PT WIN Adalah Mata Air Kehidupan”: Seruan Warga Konsel Agar Tambang Dibuka Lagi


 Sucurity PT WIN, Karim Toondu dan Tamrin saat diwawancarai awak media di halaman Kantor PT WIN Desa Torobulu pada Sabtu sore. Foto: Penafaktual.com Perbesar

Sucurity PT WIN, Karim Toondu dan Tamrin saat diwawancarai awak media di halaman Kantor PT WIN Desa Torobulu pada Sabtu sore. Foto: Penafaktual.com

KONAWE SELATAN – Sabtu sore (15 Agustus 2026) di Desa Torobulu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada deru mesin dump truck. Tidak ada tawa karyawan yang pulang kerja. Jalan hauling PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang biasanya ramai kini hanya menyisakan debu dan keheningan.

Sejak akhir April 2026 perusahaan stand by. Tanggal 10 Agustus 2026, palu diketok: ratusan karyawan resmi di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Angka ratusan itu adalah jumlah karyawan yang di-PHK. Namun dampaknya jauh lebih luas. Diperkirakan sekitar 1.500 jiwa ikut terdampak yang mencakup anak-anak, orang tua, kepala keluarga, pelaku UMKM, mitra perusahaan, hingga masyarakat lain di lingkar tambang yang menggantungkan hidup pada aktivitas PT WIN.

Dan bersamaan dengan itu, denyut ekonomi 6 desa lingkar tambang di Kecamatan Laeya ikut berhenti.

Kondisi Jalan Poros Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, tampak sepi pada sore hari, Sabtu, 15 Agustus 2026. Biasanya jalan ini ramai dilalui kendaraan dan sepeda motor karyawan PT WIN yang pulang kerja. Kini jalan tersebut lengang usai perusahaan melakukan PHK massal. Foto: Penafaktual.com

Motor yang Gagal Tuntas

Karim Toondu menatap halaman kantor tempat ia bekerja selama lebih dari 2 tahun. Seragam security masih melekat, tapi statusnya kini berubah: dari karyawan tetap menjadi pekerja harian. Upahnya Rp100 ribu per hari. Bersama 4 rekannya, ia bergantian jaga. Siang-sore 2 orang. Malam-pagi 2 orang.

“Padahal lagi 3 bulan baru lunas itu motor saya,” ucapnya pelan, Sabtu 15 Agustus 2026. “Tapi terpaksa ditarik leasing karena tidak mampu lagi bayar.”

Kalimat itu menggantung. Di desa ini, kata Karim, hampir semua orang menggantungkan hidup di tambang. Ada yang kredit motor, kredit rumah, kredit kebutuhan sehari-hari. Berharap gaji tambang yang bisa menutup semua.

Begitu tambang berhenti, satu per satu cicilan rontok. “Kasian. Jadi sangat besar dampaknya,” katanya.

Ia bersyukur masih dipanggil kerja harian. Tapi di ujung kalimatnya ada tanya: “Alhamdulillah masih dikasih kerja harian. Tapi kami juga tidak tahu, mungkin saja besok atau lusa kami dihentikan.”

Warung yang Dulu Ramai Nota 15 Juta

Beberapa meter dari kantor, Ines Yusika Riski (27), merapikan dagangan di warungnya depan Lapangan Torobulu. Dulu, tempat ini tidak pernah sepi.

“Sewaktu PT WIN beroperasi, paling sedikit Rp500 ribu per hari. Itu belum nota bulanan karyawan. Kalau nota biasanya Rp13-15 juta per bulan,” kenangnya.

Sekarang? “Untung-untungan Rp200-300 ribu. Nota bulanan sudah tidak ada lagi.”

Kondisi warung milik Ines Yusika Riski (27) di samping kantor PT WIN, Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, terlihat sepi, Sabtu, 15 Agustus 2026. Padahal biasanya pada sore hari banyak karyawan PT WIN yang singgah untuk berbelanja, membeli minuman, atau rokok. Kini warung tersebut nyaris tanpa pembeli usai perusahaan melakukan PHK massal. Foto: Penafaktual.com

Bulan Agustus seharusnya jadi bulan berkah. PT WIN selalu menggelar turnamen bola antar desa. Hadiah juara 1: Rp50 juta. Warung-warung kebanjiran pembeli. Tahun ini, lapangan kosong.

Suami Ines pun bernasib sama. Sopir dump truck yang dulu pulang membawa gaji layak, kini hanya bisa membantu di warung. “Satu-satunya sumber nafkah hanya dari sini. Dan tidak seberapa,” katanya lirih.

Pasar yang Kehilangan Pembeli

Tamrin, rekan Karim, menggeleng saat ditanya soal kondisi pasar. “Banyak sekali yang mengeluh pak. Kalau hari pasar itu kita datang pasti sepi. Daya beli masyarakat sudah tidak seperti dulu,” kata Tamrin.

Enam desa merasakan hal yang sama: Torobulu, Wonua Konggga, Labhokeo, Parasi, Wonua, dan Mondoe. Karim sendiri berasal dari Mondoe.

Sejak April, karyawan dari luar Torobulu sudah pulang kampung. “Jadi aktivitas ekonomi di pasar, yang belanja di warung mulai sunyi sejak 3 bulan lalu,” jelas Ines.

Ini Bukan Sekadar Tambang

Di tengah keprihatinan, Rifai (40), eks karyawan PT WIN, mengingatkan ada sisi lain. “Memang aktivitas pertambangan pasti ada mudharatnya. Tapi tak bisa dipungkiri PT WIN juga banyak membantu: masjid, jembatan, deker, sumur bor. Semua ada.”

Itulah yang membuat warga menyebut PT WIN bukan sekadar perusahaan.

“PT WIN bukan hanya sekadar perusahaan pertambangan tetapi telah menjadi mata air kehidupan bagi masyarakat Desa Torobulu secara khusus dan Kecamatan Laeya umumnya,” kata Ines.

Harapan mereka kini menggantung di Jakarta. Di meja Kementerian ESDM. Mereka meminta RKAB atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya segera diterbitkan agar gerbang tambang kembali dibuka.

“Karena kasihan berapa orang yang dikorbankan ini. Hanya gara-gara hal sepele seperti masalah kubangan di belakang rumah warga. Padahal itu sudah ditimbun, sudah tidak ada lagi,” tegas Karim.

Kondisi jalan hauling PT WIN di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, tampak sepi, Sabtu, 15 Agustus 2026. Biasanya jalan ini ramai dilintasi puluhan dump truck yang mengangkut ore nikel. Kini tidak ada satu pun kendaraan yang beroperasi sejak perusahaan stand by dan melakukan PHK. Foto: Penafaktual.com

Pantauan di lokasi hauling hari itu membuktikan: tidak ada satu pun dump truck yang lewat. Kosong.

Hingga tulisan ini dibuat, ribuan keluarga di lingkar tambang masih menanti. Menanti kepastian. Menanti gaji yang kembali mengalir. Menanti agar desa mereka kembali hidup.(red)

Artikel ini telah dibaca 238 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Komplotan Pembobol Tower Telkomsel di Buton Tengah Dibekuk, Satu Pelaku Masih Buron

27 Juni 2026 - 14:01 WITA

Polda Sultra Perketat Pengawasan Distribusi LPG 3 Kg, Tindak Tegas Penimbun

25 Mei 2026 - 14:43 WITA

Dari Anak Nelayan ke Kursi DPRD Bombana: Perjalanan Inspiratif Sudiami

19 Februari 2026 - 11:08 WITA

Polda Sultra Lakukan Wasrik Tahap I di Polres Konawe Utara

14 April 2025 - 16:00 WITA

PT Rimau New World Diduga Nekat Menggusur Lahan Warga Sopura Kolaka

14 Maret 2025 - 20:43 WITA

Mengenal La Ode Tariala, Anak Petani yang Didapuk Jadi Pimpinan DPRD Sultra

7 Oktober 2024 - 12:32 WITA

Trending di Feature