KONAWE SELATAN – Kepala Desa Watumbohoti, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan, Rahman, S.Pd., angkat bicara terkait informasi yang beredar mengenai dugaan kekeruhan air bendungan dan kerusakan jaringan perpipaan air bersih yang dikaitkan dengan aktivitas PT Generasi Agung Perkasa (GAP).
Ada Dua Aktivitas Perusahaan
Menurut Rahman, bendungan tersebut berada di dalam wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT GAP. Namun, di lokasi yang sama terdapat IUP perusahaan lain, yakni PT Jagat Rayatama yang juga melakukan aktivitas penambangan.
“Sesungguhnya di desa kami ada dua aktivitas perusahaan. Jika musim penghujan tiba, air bendungan biasanya keruh dan itu hal wajar. Namun, saat hujan biasa, airnya normal,” ujar Rahman.
Foto Keruh Itu Dokumentasi Lama
Terkait foto-foto yang beredar di media yang memperlihatkan air bendungan keruh, Rahman menegaskan foto tersebut merupakan dokumentasi lama.
“Itu foto sekitar dua tahun lalu kalau saya tidak salah. Itu bukan kondisi saat ini. Kalau kondisi saat ini kering karena musim kemarau panjang,” tegasnya.
PT GAP Komitmen Perbaiki Pipa Air
Ia menjelaskan, jaringan perpipaan air bersih yang melintas di wilayah aktivitas PT GAP memang berpotensi terdampak kerusakan saat penggalian. Namun, perusahaan telah berkomitmen untuk bekerja dengan hati-hati dan bertanggung jawab dengan melakukan perbaikan bahkan penggantian pipa secara cepat.
“Perusahaan sampai saat ini tidak menutup mata dan selalu memperbaiki bahkan mengganti pipa jika ada kebocoran,” jelasnya.
Rahman menyebutkan, pipa yang belum ditanam kembali karena alasan teknis pengawasan agar kerusakan mudah terdeteksi. Setelah pekerjaan di areal tersebut selesai, pipa akan ditanam kembali seperti semula.
“Sampai saat ini jaringan air di perpipaan itu tetap mengalir ke masyarakat dengan lancar, bahkan tidak ada keluhan dari warga kami,” urainya.
Warga Dipekerjakan Khusus Jaga Pipa
Untuk memastikan keamanan jaringan perpipaan, perusahaan telah mempekerjakan satu orang warga Desa Watumbohoti secara khusus untuk memantau jaringan perpipaan selama 1×24 jam dengan gaji setara karyawan.
Petani yang Terdampak Dapat Kompensasi
Rahman juga membeberkan adanya komitmen bersama antara perusahaan dan petani terdampak terkait pemberian kompensasi sebesar Rp1.000 per metrik ton sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap petani sawah yang terdampak.
“Petani sawah yang sawahnya terdampak mendapatkan Rp1.000 per metrik ton yang mereka bagi. Jadi, setiap seribu metrik ton kan langsung pembayaran, berarti Rp100 juta, itulah yang dibagi kepada para petani sawah sekitar 30-40 orang,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Sipamase-mase, Sudirman. Ia menegaskan, saat ini tidak ada air berlumpur yang masuk ke areal persawahan warga.
“Ini musim kemarau, tidak ada air apalagi lumpur. Nanti musim hujan itu pun kami tetap juga panen dan mendapatkan kompensasi dari dua perusahaan, yakni PT GAP dan Jagat Rayatama,” ungkap Sudirman.
Harap Polemik Diselesaikan Musyawarah
Di akhir pernyataannya, Rahman berharap polemik yang beredar di media dapat diselesaikan secara musyawarah agar tidak merugikan masyarakat yang banyak bekerja di perusahaan.
Sebelumnya, anggota DPRD Konawe Selatan, Iksan, menyoroti dugaan kekeruhan air bendungan dan gangguan jaringan pengairan masyarakat di Desa Watumbohoti yang diduga akibat aktivitas PT GAP.(red)

















