Menu ✖

Mode Gelap
BREAKING NEWS: Kajari Konawe Diamankan Kejati Sultra, Diduga Selewengkan Wewenang Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia

Daerah · 7 Okt 2025 22:58 WITA ·

HMI MPO Kendari Soroti Maskot STQH XXVIII yang Dinilai Sensitif


 Ketua Korps HMI Wati (Kohati) Dwi Dian Hastanti Perbesar

Ketua Korps HMI Wati (Kohati) Dwi Dian Hastanti

KENDARI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Cabang Kendari melayangkan tanggapan mengenai maskot pada persiapan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke XXVIII di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang akan diselenggarakan pada Oktober 2025.

Belakangan ini, maskot tersebut menjadi pembicaraan publik di media massa. Pasalnya, maskot STQH ini didesain menyerupai wujud hewan Anoa yang memegang kitab suci.

Ketua Korps HMI Wati (Kohati) Dwi Dian Hastanti mengatakan bahwa pelaksanaan sebuah kegiatan tidak hanya mengutamakan persoalan teknis, melainkan juga mesti mencerminkan penghormatan terhadap norma, budaya, dan nilai-nilai agama di lingkungan masyarakat.

“Yang paling utama adalah bagaimana acara ini mampu mencerminkan penghormatan yang dalam terhadap nilai-nilai agama dan budaya di masyarakat,” kata Dwi, Selasa (7/10/2025).

Dwi menambahkan bahwa penggunaan maskot tersebut harus melalui pertimbangan yang matang.

“Penggunaan maskot yang bergambar hewan memegang kitab suci saat momentum STQH XXVIII perlu benar-benar mempertimbangkan sensitivitas dan norma-norma keagamaan yang dianut,” tambahnya.

Pada momentum tersebut, ada dua jenis maskot yang digunakan, yakni Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Kendati Anoa merupakan hewan endemik di Sultra, barangkali juga dimaksudkan untuk menyampaikan pesan simbolik.

Hal yang menjadi sorotan adalah maskot hewan Anoa yang memegang kitab suci dan berpotensi menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan umat Islam.

“Dengan demikian, gambar tersebut bisa dipersepsikan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama,” pungkasnya.(red)

Artikel ini telah dibaca 86 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Truk dan Avanza Tabrakan di Lapuko Konsel, Tiga Penumpang Luka-luka

10 Oktober 2026 - 21:23 WITA

KSOP Kendari Desak Pelindo Segera Bersihkan Debu di Pelabuhan Nusantara

7 Oktober 2026 - 20:43 WITA

Kadin Kendari Tegaskan Kasus Dugaan Penipuan Ketua Bukan Urusan Lembaga, Melainkan Personal

7 Oktober 2026 - 19:52 WITA

Kebakaran Rumah dan Kios di Muna, Kerugian Ditaksir Capai Rp400 Juta

7 Oktober 2026 - 15:34 WITA

Cegah Jemaah Terlantar, DPRD Bombana Desak Kemenhaj Sultra Awasi Travel Nakal

6 Oktober 2026 - 14:53 WITA

Kisah Inspiratif H Muslim, Anggota Polres Kolaka Bangun Masjid dan Ponpes Tahfiz di Kolaka

5 Oktober 2026 - 20:45 WITA

Trending di Daerah