Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Daerah · 7 Jul 2025 20:46 WITA ·

Petaka Lumpur: Aktivitas PT TBS Mengancam Keselamatan Warga Kabaena


 Kondisi laut yang berwana merah di pesisir Kabaena Selatan. Foto: Istimewa
Perbesar

Kondisi laut yang berwana merah di pesisir Kabaena Selatan. Foto: Istimewa

BOMBANA – Musim penghujan telah tiba, namun warga Desa Pongkalero, Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), harus menghadapi kenyataan pahit.

Kawasan pesisir pantai Kecamatan Kabaena Selatan berubah menjadi lumpur diduga akibat dari aktivitas pertambangan yang dilakukan PT Tambang Bumi Sulawesi (TBS).

Kawasan pesisir yang seharusnya berwarna biru laut berubah menjadi warna coklat akibat lumpur dari aktivitas pertambangan nikel oleh PT TBS.

Banjir dan penyakit kulit seperti gatal-gatal dan lainnya pun menghantui masyarakat. Hujan yang seharusnya menjadi berkah malah akan berujung petaka jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut. Keresahan ini disampaikan oleh Muh. Amsar, seorang aktivis dan politisi, yang mengatakan bahwa aktivitas PT TBS semakin meresahkan masyarakat karena dampak lingkungan yang akan berujung bencana jika dibiarkan oleh pemerintah.

“Kami tidak menolak investasi, karena investasi salah satu kebutuhan negara hingga masyarakat. Namun, jangan mengesampingkan hal-hal lain seperti dampak lingkungannya. Kami masyarakat telah merasakannya,” katanya.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sultra itu juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu telah ada pertemuan seluruh pengusaha pertambangan, salah satunya pertambangan nikel, di Jakarta. Untuk membahas tentang investasi dan lainnya, dan di pertemuan itu seharusnya dibahas juga dampak dari pertambangan di pulau-pulau kecil seperti Kabaena.

“Menolak pertambangan itu tidak mungkin, namun jangan acuh dengan dampak pertambangannya. Kami masyarakat Kabaena tidak menolak pertambangan namun harus diperhatikan hal-hal yang sensitif seperti dampak lingkungannya karena kami masyarakat yang merasakannya,” katanya.

Politisi Partai Demokrat itu juga menambahkan bahwa pemerintah saat ini harus hadir di tengah-tengah masyarakat Kabaena, karena masyarakat Kabaena Selatan butuh pemerintah di saat-saat sekarang. Aktivitas pertambangan PT TBS sudah sangat meresahkan, dan jangan sampai masyarakat bertindak sendiri jika pemerintah tidak hadir.

“Kalau perlu tutup saja jika PT TBS ini acuh dengan dampak dari aktivitasnya. Karena pemerintah memberikan izin tentunya telah memikirkan dampak dan solusi dari aktivitas pertambangan, dan PT TBS harus peka dengan hal ini dan juga pemerintah aktif melakukan pengawasan,” tegasnya.(red)

Artikel ini telah dibaca 157 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Hindari Lubang, Toyota Rush Tabrakan dengan RX King di Konsel: Satu Pengendara Luka-Luka

11 Februari 2026 - 20:30 WITA

JMSI Laporkan Kadispar Sultra ke Kemendagri dan BKN atas Dugaan Pelanggaran Etik

10 Februari 2026 - 20:05 WITA

Plt Kasek SMA N 5 Kendari Bantah Isu MBG Dibuang oleh Siswa

10 Februari 2026 - 12:13 WITA

Nyaris Tewas, Remaja di Kolaka Diterkam Buaya Saat Pasang Jaring di Sungai

10 Februari 2026 - 07:55 WITA

Anton Timbang Calon Tunggal Ketua Kadin Sultra, Siap Pimpin Periode 2026-2031

9 Februari 2026 - 20:10 WITA

Bupati Konsel Dituding Berpihak pada Korporasi dalam Konflik Agraria di Angata

9 Februari 2026 - 19:59 WITA

Trending di Daerah