KENDARI – Suasana semarak kemerdekaan terasa berbeda di Pemukiman TPU Punggolaka, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Di tengah momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, SRI Sultra menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan pembinaan keagamaan, kebersamaan warga, serta permainan tradisional untuk anak-anak.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya para mustahik dan anak-anak di kawasan pemukiman TPU Punggolaka, untuk berkumpul dan menikmati perayaan kemerdekaan dengan penuh keceriaan.
Pembinaan Mustahik dengan Hikmah Maulid
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembinaan mustahik dengan mengambil hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan itu, peserta diajak meneladani akhlak Rasulullah, terutama nilai kepedulian, kesabaran, kejujuran, dan semangat berbagi kepada sesama.
Koordinator SRI Sultra, Hasfil, mengatakan kegiatan sengaja dirancang dengan menggabungkan unsur pembinaan dan hiburan agar pesan kebaikan dapat diterima dalam suasana yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Maulid Nabi mengajarkan kita tentang keteladanan Rasulullah SAW. Semangat itu ingin kami hadirkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui kepedulian kepada mustahik dan membangun kebersamaan dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kemerdekaan juga memiliki makna yang lebih luas. Selain mengenang perjuangan para pahlawan, kemerdekaan harus diisi dengan kegiatan positif yang mempererat persaudaraan dan menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat.
“Kami ingin anak-anak juga merasakan semarak kemerdekaan. Mereka bisa bermain, tertawa, sekaligus belajar tentang kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan,” katanya.
Anak-anak Antusias Ikuti Permainan Tradisional
Keceriaan semakin terlihat saat anak-anak mengikuti berbagai permainan yang disiapkan panitia.
Salah satu permainan yang paling menarik perhatian adalah estafet air. Anak-anak tampak antusias bekerja sama memindahkan air secara berantai hingga mencapai wadah yang telah disediakan.
Tawa dan sorak-sorai terdengar dari anak-anak yang menyaksikan maupun yang ikut berlomba. Meski sederhana, permainan itu berhasil menciptakan suasana keakraban.
“Seru sekali! Tadi airnya banyak yang tumpah, tapi tidak apa-apa, yang penting ramai dan bisa main sama teman-teman,” ujar Aulia dengan wajah ceria.
Anak lainnya mengaku ingin permainan serupa kembali digelar.
“Senang sekali. Bisa lomba sama teman-teman dan dapat hadiah. Semoga tahun depan ada lagi,” kata Aulia sambil tersenyum.
Selain estafet air, anak-anak juga mengikuti permainan memasukkan paku ke dalam botol. Permainan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsentrasi itu mengundang gelak tawa.
Para peserta berusaha memasukkan paku ke dalam botol dengan gerakan terukur, sementara teman-temannya memberikan dukungan dari sisi arena.
“Jangan menyerah! Ayo bisa! Di kiri kasi ke kanan,” teriak sejumlah anak yang memberikan semangat kepada peserta.
Diharapkan Berkelanjutan dan Punya Nilai
Bagi SRI Sultra, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat.
Hasfil menuturkan, pembinaan mustahik dan kegiatan bersama anak-anak diharapkan tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Kepedulian terhadap masyarakat, kata dia, harus terus dibangun melalui kegiatan yang konsisten.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan kegembiraan hari ini, tetapi juga meninggalkan nilai. Ada nilai agama dari hikmah Maulid, ada nilai perjuangan dari semangat kemerdekaan, dan ada nilai kebersamaan dari permainan yang dilakukan anak-anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat di kawasan Pemukiman TPU Punggolaka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan ruang kebersamaan. Karena itu, kegiatan sosial diharapkan menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan antara relawan, masyarakat, dan kelompok yang membutuhkan perhatian.
“Semoga apa yang kami lakukan menjadi amal kebaikan. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kepedulian, saling membantu dan tidak melupakan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tuturnya.
Menjelang berakhirnya kegiatan, suasana di lokasi masih dipenuhi keceriaan anak-anak. Bagi mereka, hari itu bukan sekadar tentang menang atau kalah. Lebih dari itu, kegiatan menjadi kesempatan untuk berkumpul, bermain, dan merasakan semarak kemerdekaan bersama teman-teman.
Perpaduan pembinaan mustahik dengan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW dan permainan dalam rangka menyemarakkan kemerdekaan menjadi gambaran bahwa peringatan hari besar keagamaan maupun nasional dapat diisi dengan kegiatan sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang kuat.(red)
















