KENDARI – Di antara deru transaksi dan tawa pembeli, terselip resah di kawasan Eks MTQ Kendari. Lapak-lapak yang menjadi nadi rezeki rakyat kecil itu kini dihantui langkah orang tak dikenal (OTK). Bukan belanja, yang mereka bawa justru gertak dan rasa takut.
Keluh itu pecah dari bibir Bur, salah satu pemilik lapak, Minggu, 10 Mei 2026. Baginya, tindakan intimidatif itu menikam dua arah: melukai pedagang, mengusir pembeli.
“Ini bukan hanya membuat tidak nyaman pedagang, tapi pembeli juga tidak nyaman,” kata Bur, suaranya getir menahan geram.
Jaman Berubah, Cara Lama Harus Mati
Di era ketika hukum dijunjung dan ekonomi kecil dirawat, Bur menilai cara-cara menakut-nakuti adalah sisa masa lalu yang harus dikubur.
“Sudah bukan jamannya sekarang mau takut-takuti orang,” ujarnya tegas. Lapak bukan arena adu kuasa, melainkan tempat bertemunya keringat dan halal.
“Bukan begitu cara cari rezeki,” katanya, menohok mereka yang memilih jalan tekanan ketimbang jalan hukum.
Seruan ke Negara: Hadir dan Tertibkan
Bur meminta negara hadir. Pemerintah dan aparat keamanan didesak turun tangan, mengembalikan marwah di Lapak eks MTQ sebagai ruang yang aman dan kondusif. Sebab semua sengketa punya jalannya: hukum, bukan gertak.
“Ini negara hukum, tidak ada lagi istilah japre mengatasnamakan apapun,” tegasnya.
Tak boleh ada kelompok yang merasa di atas hukum, menindas yang lemah atas nama apa pun.
Di bawah tenda lapak Eks MTQ, para pedagang kini menggantung harap. Mereka hanya ingin satu kepastian: berdagang tanpa takut, melayani tanpa waswas, agar roda rezeki terus berputar normal kembali.(red)
















