KENDARI – Kementerian Kehutanan bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) resmi meluncurkan implementasi proyek Strengthening Animal Health Systems in Southeast Asia and the Pacific for a Healthy and Resilient Region di Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa, 21 Juli 2026.
Peluncuran ini bertujuan memperkuat pendekatan One Health untuk mengurangi risiko penyakit zoonosis di sepanjang rantai nilai satwa liar, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan.
Rantai Nilai Satwa Liar Jadi Fokus Pengawasan
Berbagai bukti ilmiah menunjukkan rantai nilai satwa liar menjadi titik interaksi penting yang memungkinkan perpindahan patogen dari satwa liar ke manusia maupun hewan domestik. Kondisi ini meningkatkan potensi munculnya penyakit zoonosis.
Untuk merespons tantangan tersebut, proyek ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari instansi pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra pembangunan.
Pemprov Sultra Dukung Penuh
Kegiatan dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Mujahidin, yang mewakili Sekretaris Daerah, Muhammad Fadlansyah.
Ia menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan posisi strategis Sulawesi Tenggara dalam rantai nilai satwa liar di Indonesia.
“Keanekaragaman hayati yang kaya serta ekosistem yang unik di Sulawesi Tenggara merupakan aset berharga untuk mendukung mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan, dan kesejahteraan. Provinsi ini juga memberi peluang besar untuk memahami interaksi antara satwa liar, manusia, dan ekosistem. Kami menyambut kolaborasi ini dan berharap dapat bekerja sama memperkuat upaya pengurangan risiko zoonosis di wilayah Sulawesi,” ujar Mujahidin.
Sulawesi Tenggara dikenal sebagai salah satu provinsi utama sumber satwa liar di Indonesia. Pemahaman mendalam terhadap rantai nilai satwa liar di wilayah ini dinilai penting untuk mengidentifikasi peluang pengurangan risiko zoonosis, melindungi keanekaragaman hayati, dan mendukung mata pencaharian masyarakat.
Lanjutan Proyek Wildlife Wet Markets
Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari proyek Wildlife Wet Markets (WWM) 2022–2023 yang juga dilaksanakan Kementerian Kehutanan dan FAO dengan dukungan Pemerintah Australia.
Pada fase pertama, proyek menghasilkan data risiko zoonosis terkait perdagangan satwa liar dan menyusun peta jalan multisektor lima tahun untuk Provinsi Sulawesi Utara.
Kini implementasi diperluas ke Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan, serta berlanjut di Sulawesi Utara. Melalui penelitian, dialog kebijakan, dan penguatan kolaborasi multisektor, proyek ini akan menghasilkan bukti ilmiah sebagai dasar penyusunan intervensi dan kebijakan pencegahan zoonosis yang sesuai konteks lokal.
FAO Tegaskan Komitmen
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengapresiasi sambutan dan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Pengurangan risiko penyakit zoonosis memerlukan aksi terkoordinasi di seluruh rantai nilai satwa liar. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Sulawesi Tenggara berpotensi menjadi contoh dalam mengintegrasikan pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat melalui pendekatan One Health. FAO berkomitmen mendukung Pemprov Sultra mengembangkan solusi praktis berbasis bukti untuk melindungi mata pencaharian masyarakat dan generasi mendatang,” kata Rajendra.
Lokakarya Susun Prioritas Aksi
Peluncuran ditutup dengan lokakarya dan konsultasi pemangku kepentingan. Peserta dari unsur pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan bersama menghimpun data dasar dan mengidentifikasi prioritas aksi yang akan dilaksanakan hingga 2027.(red)
















