KENDARI – Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) kembali mengukuhkan ratusan lulusan melalui Wisuda Sarjana XXXV dan Pascasarjana X Tahun 2026 yang digelar di Phinisi Ballroom Hotel Claro Kendari, Rabu, 9 September 2026.
Sebanyak 672 lulusan mengikuti prosesi wisuda tersebut. Ratusan lulusan itu terdiri atas 646 sarjana strata satu (S1) dan 26 magister (S2).
Para lulusan berasal dari berbagai program studi di lingkungan Unsultra. Di antaranya, Teknik Sipil 61 orang, Teknik Mesin 2 orang, Teknik Pertambangan 14 orang, Teknologi Hasil Pertanian 5 orang, Peternakan 7 orang, Agribisnis 5 orang, Ilmu Hukum 264 orang, Ilmu Pemerintahan 98 orang, Manajemen 50 orang, Kewirausahaan 40 orang, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 104 orang, serta Pascasarjana/Magister Umum 15 orang.
Prosesi wisuda tersebut dihadiri jajaran Senat Unsultra, Rektor Unsultra Prof. Dr. Eng. Jamhir Safani, S.Si., M.Si., Ketua Dewan Pembina Unsultra Dr. H. Nur Alam, S.E., M.Si., serta unsur Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Dalam sambutannya, Rektor Unsultra Jamhir Safani mengatakan, prosesi wisuda bukan menjadi akhir dari perjalanan pendidikan para mahasiswa, melainkan pintu masuk menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Ia mengingatkan para lulusan untuk mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global yang semakin dinamis.
“Di tengah era disrupsi teknologi, tantangan teknologi global sudah menunggu kalian,” kata Jamhir.
Di hadapan ratusan wisudawan, Jamhir menyampaikan tiga pesan yang dinilai penting sebagai bekal sebelum para lulusan terjun ke tengah masyarakat.
Pesan pertama adalah menjaga integritas. Ia meminta para alumni tetap menjadi pribadi yang jujur dan profesional meski berada di tengah lingkungan yang menawarkan berbagai jalan pintas.
Pesan kedua, terus belajar dan mampu beradaptasi. Jamhir menilai ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah akan terus berkembang seiring perubahan zaman.
Karena itu, menurut dia, kemampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri menjadi modal penting bagi para alumni dalam menghadapi perubahan.
“Lihat apa yang dikatakan orang lain, jangan lihat siapa yang mengatakan. Selama baik, ambillah semua pelajaran dan pesan penting yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pesan ketiga, menjadi bagian dari solusi. Jamhir meminta para lulusan tidak hanya menjadi penonton ketika berada di tengah masyarakat.
Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unsultra dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi penonton di tengah masyarakat. Gunakan ilmu untuk menyelesaikan masalah, sekecil apa pun itu,” tegasnya.
Jamhir juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Unsultra. Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada seluruh dosen yang telah membimbing dan memberikan ilmu kepada mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Unsultra, Nur Alam, dalam orasinya mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi bukanlah akhir dari proses belajar.
Menurutnya, dunia nyata akan menghadirkan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan persoalan yang dihadapi mahasiswa selama berada di bangku kuliah.
“Di dunia nyata, Saudara akan menemukan persoalan yang jauh lebih sulit. Tidak ada pilihan A, B, C, atau D, tidak ada dosen yang membenarkan, dan tidak ada buku yang selalu memberi jawaban,” ujar Nur Alam.
Ia menekankan bahwa para lulusan harus mampu mengambil keputusan, berpikir kritis, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambil ketika nantinya memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Kehadiran Nur Alam dalam prosesi wisuda tersebut juga diwarnai perjuangan perjalanan dari Jakarta menuju Kendari.
Sebelumnya, Nur Alam berada di Jakarta. Namun, akibat kendala penerbangan dan penutupan operasional di Bandara Soekarno-Hatta, ia harus menempuh perjalanan darat melalui tol hingga Surabaya sebelum melanjutkan penerbangan menuju Bandara Halu Oleo, Kendari.
Perjalanan tersebut ditempuh selama kurang lebih 24 jam. Meski demikian, Nur Alam tetap berupaya hadir untuk memberikan orasi di hadapan para wisudawan Unsultra. (lin)

















