KENDARI – Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara (Sultra) selama ini dinilai mengalami mati suri. Untuk menghidupkannya kembali, dibutuhkan kesadaran kolektif dan kepemimpinan yang merangkul semua pihak, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Hal itu disampaikan Pemuda Munaken, Bahar Rustajab, saat menyoroti kondisi KKMM saat ini, Senin, 6 Juli 2026.
Kritik Terhadap Euforia Sesaaat
Menurut Bahar, selama ini KKMM cenderung hanya aktif saat ada momentum tertentu. Aktivitasnya berhenti pada euforia berkumpul sesaat tanpa program berkelanjutan.
“Menghidupkan kembali KKMM memerlukan kesadaran kolektif. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua pihak, komunikasi terbuka, kegiatan yang bermanfaat bagi seluruh generasi, serta komitmen menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok,” ujar Bahar.
Ia juga menyoroti bahwa hingga saat ini belum terlihat kontribusi nyata organisasi terhadap generasi muda Muna di Kendari.
Risiko Politisasi Kerukunan
Bahar mengingatkan, jika kerukunan dijadikan alat politik praktis, maka nilai persaudaraan akan bergeser. Anggota tidak lagi dipandang sebagai keluarga besar yang setara, melainkan sebagai komoditas suara.
“Apabila kerukunan dijadikan alat politik praktis, maka nilai-nilai persaudaraan berisiko bergeser menjadi instrumen mobilisasi massa. Identitas suku dapat dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek, sementara tujuan utama organisasi terabaikan,” tegasnya.
Dorongan Kerukunan Inklusif dan Produktif
Bahar menekankan, kerukunan keluarga bukan hanya soal berkumpul atas dasar ikatan darah, suku, atau daerah asal. Kerukunan sejati adalah kekuatan sosial untuk membangun kesejahteraan bersama.
Ia merinci, kerukunan yang berorientasi kesejahteraan harus berjalan berkelanjutan melalui program nyata. Contohnya pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, beasiswa pendidikan, kegiatan sosial, pelestarian budaya, dan penguatan solidaritas antarkeluarga.
“Kerukunan yang kokoh adalah yang mampu mengubah persaudaraan menjadi kekuatan, kekuatan menjadi kerja sama, kerja sama menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan bersama,” katanya.
Bahar juga mendorong terwujudnya kerukunan yang inklusif. Artinya, seluruh anggota diberi ruang untuk berpartisipasi tanpa membedakan status sosial, profesi, usia, jenis kelamin, pendidikan, ekonomi, maupun pilihan politik.
“Kerukunan inklusif tidak bertanya, ‘Siapa yang paling berpengaruh?’ Melainkan bertanya, ‘Apa yang dapat kita lakukan bersama agar seluruh keluarga tumbuh, maju, dan sejahtera?'” ujarnya.
Visi ke Depan
Di akhir pernyataannya, Bahar menyampaikan visi yang ingin diwujudkan:
“Mewujudkan kerukunan keluarga yang inklusif, berlandaskan persaudaraan, menjunjung musyawarah, menghargai keberagaman, serta berorientasi pada kesejahteraan dan kemajuan bersama.”
Tujuan akhirnya, kata dia, adalah menciptakan manfaat nyata melalui penguatan silaturahmi, pelestarian budaya, peningkatan kualitas SDM, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, dan pembangunan generasi penerus yang berkarakter.(red)
















