Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Opini · 29 Agu 2025 11:15 WITA ·

Rakyat Menjerit, Elit Berkuasa: Sebuah Refleksi Tragis di Usia Ke-80 Kemerdekaan Indonesia


 La Ode Husaini, S.Psi. Perbesar

La Ode Husaini, S.Psi.

Oleh: La Ode Husaini
Eks Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Psikologi UHO

Di usia ke-80 kemerdekaan Indonesia, rakyat masih terus menjerit akibat kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Pajak yang tinggi, harga bahan pokok yang terus naik, dan kebijakan-kebijakan lain yang membuat rakyat semakin menderita.

Saat rakyat menyampaikan aspirasi atas keresahan mereka, mereka selalu dibenturkan dengan aparat kepolisian. Mereka diadu seperti pion-pion kecil di medan perang, sementara para elit sedang duduk di ruangan ber-AC sambil minum kopi atau teh hangat dan menikmati permainan catur.

Peristiwa tragis yang dialami Affan Kurniawan (21), driver ojek online yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob di Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025), menjadi contoh nyata bagaimana rakyat diperlakukan oleh aparat. Ini sungguh tragis dan memprihatinkan. Sebuah ironi yang memilukan, di mana negara yang seharusnya melindungi rakyatnya, justru menjadi alat untuk menindas mereka.

Kita dapat melihat fenomena ini melalui teori piramida kebutuhan Abraham Maslow. Rakyat Indonesia saat ini masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Namun, kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat membuat mereka semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan ketidakpastian, sementara para elit terus menikmati kemewahan dan kekuasaan.

Lebih tragis lagi, saat rakyat menyampaikan aspirasi mereka, mereka justru dihadapi dengan kekerasan dan intimidasi oleh aparat kepolisian. Ini sungguh ironis, di mana negara yang seharusnya melindungi rakyatnya, justru menjadi alat untuk menindas mereka. Rakyat yang seharusnya menjadi prioritas utama, justru menjadi korban kebijakan yang tidak pro rakyat.

Kita dapat melihat sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, di mana para pahlawan kita berjuang melawan penjajah dengan gigih dan berani. Mereka berkorban jiwa dan raga untuk kemerdekaan bangsa ini. Namun, saat ini, perjuangan rakyat lebih berat karena mereka harus melawan para penghianat bangsanya sendiri. Para elit yang berkuasa lebih memikirkan kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan rakyat.

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, “Perjuangan kita bukan hanya melawan penjajah, tapi juga melawan kemiskinan, kebodohan, dan kemunduran.” Saat ini, perjuangan rakyat Indonesia adalah melawan para penghianat bangsanya sendiri, yang lebih memikirkan kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan rakyat. Kita harus ingat bahwa rakyat adalah tulang punggung negara ini. Jika rakyat menderita, maka negara ini tidak akan pernah maju

Oleh karena itu, kita harus terus menyuarakan aspirasi kita dan menuntut DPR dan pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Kita tidak boleh diam dan membiarkan para elit berkuasa memanfaatkannya. Kita harus terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar kita dan menciptakan Indonesia yang lebih baik. Sebuah Indonesia yang berkeadilan, yang berdemokrasi, dan yang berpihak pada rakyat.

Kita harus terus berjuang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, di mana rakyat tidak lagi menderita akibat kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Di mana rakyat dapat hidup dengan layak, dengan harga bahan pokok yang terjangkau, dengan pendidikan yang berkualitas, dan dengan kesehatan yang terjamin. Di mana rakyat dapat menyampaikan aspirasi mereka tanpa takut diintimidasi atau dikriminalisasi.

Rakyat harus menjadi prioritas utama, bukan hanya menjadi pion-pion kecil di medan perang. Di mana rakyat dapat hidup dengan martabat dan harga diri, tanpa takut akan penindasan dan kekerasan. Kita harus terus berjuang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, untuk rakyat, oleh rakyat, dan dari rakyat.(red)

Artikel ini telah dibaca 53 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tiga Pilar Keadilan: Pajak, Zakat, dan Wakaf dalam Perspektif Kapitalisme dan Islam

26 Agustus 2025 - 11:10 WITA

Gaza Dilaparkan

17 Agustus 2025 - 19:20 WITA

Gaza Masih Terpenjara: Saatnya Merdeka

13 Agustus 2025 - 14:20 WITA

Mengulik Pencoptan Konstantinus Bukide Sebagai Sekretaris Daerah Buteng

12 Agustus 2025 - 11:52 WITA

Transformasi Digital: Upaya Mengoptimalkan Penerimaan Negara Pada Sektor Pajak

28 Juli 2025 - 11:18 WITA

Tanah Terlantar Diambil Negara, Rakyat Dapat Apa?

22 Juli 2025 - 19:10 WITA

Trending di Opini