Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Daerah · 4 Agu 2026 12:07 WITA ·

Pengusaha Jasa Transportasi Soroti Minimnya Respons Pemerintah Hadapi Kelangkaan Solar di Kendari


 Bahar Rustajab, salah satu pengusaha jasa transportasi di Kota Kendari Perbesar

Bahar Rustajab, salah satu pengusaha jasa transportasi di Kota Kendari

KENDARI – Kelangkaan BBM jenis Solar yang berlangsung beberapa waktu terakhir dinilai telah mengganggu rantai pasok logistik di Kota Kendari dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini memicu keprihatinan dari pelaku usaha jasa transportasi.

Bahar Rustajab, salah satu pengusaha jasa transportasi di Kota Kendari, menilai persoalan kelangkaan Solar merupakan isu strategis yang dampaknya meluas ke sektor ekonomi.

“Penumpukan peti kemas di Pelabuhan Bungkutoko, terganggunya distribusi barang, dan terbatasnya operasional armada logistik merupakan indikator bahwa rantai pasok sedang mengalami tekanan,” ujar Bahar, Senin 4 Agustus 2026.

Dampak Meluas ke UMKM dan Konsumen

Menurut Bahar, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan angkutan. Pelaku usaha, UMKM, industri, pedagang, hingga masyarakat sebagai konsumen juga akan terdampak.

Ia menyoroti belum terlihatnya langkah koordinasi yang kuat dan cepat dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Pemerintah daerah seharusnya tidak menunggu situasi memburuk sebelum mengambil tindakan. Sebagai pemimpin daerah, pemerintah memiliki peran penting untuk memfasilitasi koordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga, pengelola pelabuhan, dan para pelaku usaha logistik agar distribusi BBM Solar tetap terjaga,” kata Bahar.

Stabilitas Harga dan Iklim Investasi Terancam

Bahar menegaskan, gangguan pada logistik bukan hanya menyangkut kelancaran transportasi. Hal ini juga berkaitan dengan stabilitas harga, kepastian pasokan barang, iklim investasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Keterlambatan mengambil langkah dapat meningkatkan biaya distribusi, menurunkan daya saing usaha, serta mengurangi kepercayaan dunia usaha terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola persoalan strategis,” jelasnya.

Desak Pemerintah Lebih Responsif

Ia menyebut kritik yang disampaikan bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai dorongan agar pemerintah lebih responsif dan hadir di tengah persoalan masyarakat dan dunia usaha.

“Kepemimpinan yang efektif tercermin dari kemampuan membaca situasi, membangun koordinasi lintas sektor, dan mengambil langkah nyata sebelum dampaknya semakin meluas,” tegas Bahar.

Bahar mendorong pemerintah menjadikan kelancaran distribusi BBM Solar sebagai prioritas.

“Sudah saatnya pemerintah menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat dan pelaku usaha. Langkah cepat hari ini akan menentukan stabilitas ekonomi daerah pada hari-hari mendatang,” pungkasnya.(red)

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Rumah Petani di Konawe Selatan Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp100 Juta

1 Agustus 2026 - 20:48 WITA

Tiket Kapal Cepat Kendari-Raha-Baubau Diperketat, Calo Terancam Diproses Hukum!

31 Juli 2026 - 14:31 WITA

Lanud Haluoleo Gelar Sidang Pantukhirda, 41 Casis Bintara TNI AU A- 58 Disaring

31 Juli 2026 - 01:13 WITA

Libatkan Pelajar, Mahasiswa KKN UHO Tanam 300 Mangrove di Pesisir Desa Sorue Jaya

30 Juli 2026 - 21:43 WITA

Kabid Akuntansi BKAD Muna Meninggal Dunia, Diduga Usai Mengikuti Lomba Bola Gotong 

29 Juli 2026 - 18:03 WITA

Rumah Warga di Konawe Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp400 Juta

28 Juli 2026 - 15:44 WITA

Trending di Daerah