Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

News · 3 Jul 2026 16:41 WITA ·

Penguatan Ideologi Pancasila Jadi Benteng Bangsa Hadapi Tantangan Era Digital


 Webinar Forum Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama DPR RI. Foto: Istimewa Perbesar

Webinar Forum Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama DPR RI. Foto: Istimewa

JAKARTA – Penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital. Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), maraknya hoaks, hingga lunturnya etika bermedia menjadi tantangan yang harus dijawab dengan penguatan ideologi, literasi digital, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Forum Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) bersama DPR RI bertajuk “Penguatan Ideologi Pancasila di Tengah Tantangan Bangsa di Tengah Era Digital” yang menghadirkan narasumber Dr. H. Sukamta (Anggota DPR RI), Asep Rohmatullah, S.Fil.I., M.M. (Peneliti NEXT Indonesia), dan Wahyudi Syakuri, S.Pd.I., M.S. (Ketua DPD KNPI Gunungkidul), diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 2 Juli 2026.

Anggota DPR RI, Dr. H. Sukamta, menegaskan bahwa ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya AI, menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan baru dalam menjaga identitas dan nilai kebangsaan.

“Digital bukan lagi sekadar gangguan, tetapi sudah menjadi bagian dari irama hidup kita. Karena itu, kita harus memiliki alat saring agar tetap memiliki kesadaran sebagai warga negara Indonesia yang berpegang pada nilai-nilai Pancasila,” ujar Sukamta.

Ia menjelaskan bahwa algoritma media sosial tidak bersifat netral karena membawa nilai dan kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, Pancasila harus menjadi kompas moral dalam menyaring berbagai informasi dan budaya global yang masuk melalui ruang digital.

Sementara itu, Peneliti NEXT Indonesia, Asep Rohmatullah, memaparkan bahwa Pancasila bukan hanya ideologi negara, melainkan sistem nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Ia mengibaratkan Pancasila sebagai pondasi rumah, UUD 1945 sebagai kerangka, NKRI sebagai rumah besar, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat persatuan bangsa.

Mengutip berbagai hasil survei, Asep menyebut mayoritas masyarakat Indonesia masih meyakini Pancasila sebagai rumusan terbaik bagi bangsa. Namun, ia mengingatkan bahwa era digital juga membawa ancaman berupa krisis etika digital, penyebaran hoaks, radikalisme, hingga infiltrasi ideologi asing.

“Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi merupakan perangkat lunak keamanan masa depan bangsa,” tegasnya.

Menurut Asep, penguatan literasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan ideologi agar masyarakat mampu menghadapi tantangan dunia digital secara bijak dan bertanggung jawab.

Senada dengan itu, Ketua DPD KNPI Gunungkidul, Wahyudi Syakuri, menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi Pancasila di era digital. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai kebangsaan dan memperkuat persatuan.

“Mari kita banjiri ruang digital dengan konten-konten kreatif yang bernafaskan Pancasila. Jangan biarkan ruang digital dipenuhi hoaks dan ujaran kebencian yang memecah belah bangsa,” ujarnya.

Wahyudi juga mengajak masyarakat untuk membangun budaya bermedia yang beretika, menghargai perbedaan, menyaring informasi sebelum membagikannya, serta menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat gotong royong dan kepedulian sosial.

Melalui forum diskusi ini, para narasumber sepakat bahwa penguatan ideologi Pancasila tidak cukup hanya melalui hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam aktivitas di ruang digital. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk membangun ekosistem digital yang sehat, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila sebagai pondasi menuju Indonesia yang maju dan berdaya saing di era transformasi digital. (red)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Kapolda Sultra Pimpin Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Tegaskan Komitmen “Polri untuk Masyarakat”

1 Juli 2026 - 18:05 WITA

Diduga Tak Daftarkan Karyawan ke BPJS dan Tahan Pesangon, PT PPBB Diadukan ke DPRD Kendari

29 Juni 2026 - 16:25 WITA

Pelajar Perempuan di Konawe Hilang Usai Pamit ke Rumah Teman untuk Makan Rujak

28 Juni 2026 - 22:24 WITA

Pria Bersajam Mengamuk di SPBU Wulele Kendari, Pengantre Panik dan Pelaku Dikejar Warga

28 Juni 2026 - 18:08 WITA

Pelaku Diduga Manfaatkan Kelalaian Korban, Curanmor di Konawe Berhasil Diungkap

26 Juni 2026 - 17:33 WITA

Pastikan Petani Tak Dirugikan, Satgas Pusat dan Polda Sultra Awasi Perusahaan Sawit di Konsel

25 Juni 2026 - 20:03 WITA

Trending di News