Menu

Mode Gelap
Eks Presiden BEM UHO Minta Pj Gubernur Selesaikan Polemik Pengalihan Rute Kapal di Perairan Cempedak Jalur Kapal Cepat Kendari-Raha Dikembalikan ke Rute Awal Polisi Tangkap 10 Ton Solar Ilegal Milik Kepala Desa Tak Buka Pendaftaran, PPP Fokus Dorong ASR di Pilgub Sultra Benteng Kotano Wuna Sabet Rekor MURI Sebagai Benteng Terluas di Dunia

Opini · 16 Mei 2023 22:26 WITA ·

Mengenal Lebih Dekat Aisyiyah Sultra


 Muhammad Alifuddin Perbesar

Muhammad Alifuddin

Oleh: Muhammad Alifuddin

Kamis 18 Mei 2023 mendatang Aisyiyah merayakan milad ke-106, karena itulah untuk mengenal Aisyiyah lebih dalam, maka saya berinisiatif membuat tulisan singkat tentang organisasi ini. Aisyiyah adalah organ perempuan yang didirikan tahun 1917 di Yogyakarta oleh Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan). Sebagai organ otonom khusus Muhammadiyah, nama Aisyiyah mengacu pada nama isteri Baginda Rasul Muhammad SAW., yaitu Aisyah binti Abu Bakar.

Aisyah RA., adalah sosok perempuan berkarakter energik, kritis dan progresif, Karena sifat-sifat itulah diduga kuat sehingga Dahlan dan Nyai Dahlan menamankan organ ini dengan Aisyiyah.

Pedirian Aisyiyah, tidak semata-mata dimaksudkan sebagai organ otonom Muhammadiyah, tetapi juga terkait erat dengan realitas sejarah yang dialami oleh kaum perempuan pada masa itu, yang dipandang sebagai subordinasi dari komunitas lelaki. Pada masa sebelum kemerdekaan, perempuan lebih umum ditugaskan untuk menyelesaikan problem privat domestic ketimbang tugas public, maka penamaan Aisyiyah oleh Dahlan tentu saja bertujuan agar perempuan Indonesia dapat meneladani sikap dan pandangan hidup Aisyah yang energik, kritis dan progresif dalam menapaki jejak zaman. Sekaligus menghapus stigma atas eksistensi perempuan sebagai subordinasi laki-laki sebagaimana banyak dipahami, tidak saja ketika awal mula Aisyiyah dibentuk bahkan hingga saat ini.

Penamaan organ ini dengan Aisyiyah, menyiratkan pada suatu orientasi dan cita-cita besar pendirinya tentang perempuan Indonesia masa datang. Yaitu; perempuan yang mandiri, istiqamah, dan berorientasi maju, tanpa harus meningglakan karakter keperempuanan yang lembut, penuh kasih sayang, sekaligus pengayom karena kodratnya sebagai seorang ibu. Lembut lawan dari kekakuan, artinya dalam menghadapi realitas sosial budaya Aisyiyah tidak kaku memaknai perkembangan yang niscaya direspon oleh komunitas perempuan.

Batasan-batasan moralitas tetap dijaga namun pada saat yang sama tidak kemudian menghalangi mereka untuk bertindak kreatif dalam merespon situasi sosial yang tumbuh dalam dinamika yang tinggi. Aisyiyah tampil ke ruang public untuk memajukan komunitas perempuan, namun tetap berada dalam ruang nilai-nilai keislaman. Aisyiyah telah tampil ke depan memajukan membebaskan perempuan jauh sebelum organ perempuan lainnya bernyawa. Perannya dalam memajukan perempuan tidak terikat oleh konsepsi gender dan paradigma feminism, karena jauh sebelum teori-teori tersebut lahir, Aisyiyah sudah berkarya untuk dan bagi pemberdayaan perempuan.

Dalam sejarahnya, komunitas Aisyiyah sesungguhnya adalah kumpulan “emak-emak” yang tergabung dalam sebuah kelompok pengajian Sopo Tresno. Dalam ruang pembelajarn inilah mereka mendapat bekal ilmu agama praktis, bukan “teoretis”. Dengan modal tersebut, kemudian mereka tampil dengan karya nyata dalam bidang bidang pendidikan, kesehatan dan aktivitas sosial lainnya.

Aisyiyah yang digawangi oleh “emak-emak” dalam sejarah keberadaannya tampil ke public tanpa retorika nyaring dan menggema bila bandingkan dengan organ perempuan lainnya. Vokal indah Aisyiyah tidak lahir dalam bentuk lagu atau nyanyian indah penuh janji, tetapi ia bunyi dalam derap langkah nyata, mewujud dalam indahnya berkarya. Karena kelembutannya, Aisyiyah tidak pernah se-lantang organ lainnya dalam mengkampanyekan konsep pemberdayaan perempuan, yang mereka tahu adalah bagaimana berkarya dan terus berkarya secara berkelanjutan. Teori mereka adalah berbuat, karena berbuat adalah fakta otentik yang sulit terbantahkan. Suara lantang Aisyiyah mereka cukupkan dengan kerja nyata.

Jumlah anggota Aisyiyah sesungguhnya tidak terlalu banyak dan umumnya berasal dari kalangan Ibu-ibu rumah tangga, meskipun di antaranya ada juga yang berprofesi sebagai dosen, dokter hingga Profesor. Tetapi siapa yang mau menyanggah kalau organ perempuan ini sangat produktif dalam beramal bakti untuk bangsa dan Negara. Nasionalisme Aisyiyah adalah nasionalisme perbuatan bukan kata-kata. Kiranya sangat banyak tentunya ahli retorik dari kalangan perempuan yang dapat meyusun kalimat indah mempesona lebih dari 20.000 kata, tetapi saya menduga untuk tidak mengatakan pasti sulit untuk ditemukan, komunitas perempuan yang mampu membuat 20.000 bangunan rumah sekolah untuk anak-anak seperti dilakukan Aisyiyah.

Di Sulawesi-Tenggara, meskipun Aisyiyah-nya terbilang “tertinggal”, bila dibanding dengan Aisyiyah di Jawa, namun hingga hari ini telah membangun 34 unit TK/PAUD Bustanul Athfal, 1 SD dan SMA. Lebih dari itu Aisyiyah Sultra adalah organ perempuan pertama di Indonesia Timur yang memiliki perguruan tinggi. Secara nasional Aisyiyah memiliki TK/PAUD lebih dari 20.000, sejumlah rumah sakit dan poliklinik, rumah singgah dan ratusan panti asuhan. Aisyiyah juga memiliki 9 perguruan tinggi 3 diantaranya berbentuk universitas.

Klaim 20.000 TK/PAUD bukan sebatas retorik, kesimpulan tersebut mengacu pada jumlah sertivikat yang tersimpan dalam arsip Aisyiyah Pusat, karena setiap pendirian TK/PAUD Aisyiyah, niscaya mengikutsertakan akta wakaf pendiriannya. Konteks ini yang membedakan Aisyiyah dengan kebanyakan organisasi perempuan lainnya yang mencukupkan diri dengan “mengklaim” sejumlah TK /PAUD, namun realitas kepemilikannya tidak berakta otentik. Berangkat dari fakta tersebut, Peacokc antroplog Amerika menyebutkan Aisyiyah sebagai organ perempuan terproduktif di Asia Tenggara bahkan mungkin di dunia.

Secara pribadi saya belum meyakini hal tersebut, namun kalau pernyataan itu disuarakan untuk konteks Indonesia, maka kiraya sulit menemukan teori yang dapat membantahnya.

Di Sultra, organ “emak-emak” yang berafiliasi kepada Muhammadiyah ini, jejak sejarahnya telah tampak pada tahun 1969 yang dipelopori oleh Hj. Andi Nurhayati Mappatombong kemudian dilanjutkan oleh Hj. Andi Intan. Kini usia Aisyiyah Sulawesi-Tenggara jika dihitung dari sejak mula keberadaannya telah menapak usia 52 tahun. Aisyiyah Sultra memang belum sebesar Aisyiyah di Provinsi lain, namun progrevitasnya terbilang cukup laju bila dibanding organ perempuan sejenisnya. Di Kendari, Kolaka, Bau-Bau dan Muna kita dapat menyaksikan kantor Aisyiyah yang ke depan akan tampil “megah”.

Wujud bangunan kantor yang lumayan besar tersebut adalah bukti jika organ Aisyiyah Sultra, terus berkreasi melintas zaman. Yang lebih menarik karena bangunan-bangunan besar tersebut dibangun dari jerih payah dan cucuran keringat, ketekunan “emak-emak” Aisyiyah mengumpul dana dari para anggotanya, berupa infaq setiap kali mereka rapat dan pengajian.(**)

Teporombua, 14 Mei 2023

Artikel ini telah dibaca 209 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tapera: Kebijakan Zalim untuk Memenuhi Kebutuhan Rumah

12 Juni 2024 - 20:31 WITA

Pemberantasan Judi Online Butuh Keseriusan Aparat Penegak Hukum

6 Juni 2024 - 19:10 WITA

Tindak Asusila di Kampus, Bukti Pergaulan Makin Liberal

4 Juni 2024 - 16:57 WITA

Darurat Narkoba, Islam Memberi Solusi

24 Mei 2024 - 23:44 WITA

Pajak Semakin Menggila, Sebenarnya untuk Siapa?

24 Mei 2024 - 23:41 WITA

Kesejahteraan Buruh Mustahil Terwujud dalam Sistem Kapitalisme

24 Mei 2024 - 23:25 WITA

Trending di Opini