Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Opini · 12 Jul 2025 21:41 WITA ·

Di Tengah Riak Momentum Pilrek UHO: PMII UHO Harus Tetap Jadi Penjaga Nilai


 Ahmad Adnan Wirapraja Perbesar

Ahmad Adnan Wirapraja

Oleh: Ahmad Adnan Wirapraja
Ketua PK PMII Universitas Halu Oleo

Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) sedikit lagi memasuki babak akhir. Sebuah proses yang sejak awal mengundang banyak perhatian dan, tak bisa dipungkiri, menyisakan riak—baik di ruang publik, di internal kampus, maupun di kalangan mahasiswa sendiri. Sebagai Ketua Pengurus Komisariat PMII UHO, saya memandang dinamika ini bukan sekadar kontestasi biasa. Ini adalah ujian kedewasaan demokrasi kampus kita.

Sayangnya, dalam proses yang berlangsung, tidak sedikit suara yang merasa diabaikan, dan tak sedikit pula yang kemudian terjebak dalam polarisasi. Di tengah situasi ini, PMII harus menempatkan diri secara jernih. Kita bukan bagian dari kegaduhan, dan tidak seharusnya larut dalam narasi yang memperkeruh. Kita adalah pengawal nilai, pengamat kritis, dan penjaga marwah intelektual kampus.

Maka, melalui tulisan ini, saya menghimbau seluruh kader PMII UHO:

  1. Jaga ketenangan dan hindari keterlibatan dalam konflik terbuka. Kita harus menjadi pendingin, bukan pemicu.
  2. Tingkatkan daya analisis dan kemampuan membaca situasi. Kader PMII harus peka terhadap dinamika sosial-politik kampus tanpa kehilangan prinsip dan arah perjuangan.
  3. Hormati hasil pemilihan, sambil tetap kritis terhadap proses.
  4. Rawat solidaritas internal organisasi. Dalam situasi penuh gejolak, kekuatan kita justru ada pada kesatuan dan kedewasaan dalam bersikap.
  5. Jangan terjebak menjadi alat dari kepentingan luar. PMII bukan pelengkap kekuasaan. Kita punya jalan perjuangan sendiri—yang bersandar pada nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Saya percaya, kader-kader PMII UHO cukup cerdas untuk tidak larut dalam arus yang membingungkan arah. Kita boleh kecewa, kita boleh bersuara, tapi tetap dalam koridor etika organisasi dan nalar yang sehat. Karena yang sedang kita perjuangkan bukan hanya soal siapa yang memimpin, tapi bagaimana kampus ini dijalankan dengan nilai keadilan dan keberpihakan pada kebenaran. Dan itu adalah tanggung jawab bersama.

Akhirnya, saya mengajak seluruh sahabat pergerakan untuk terus menjaga nalar kritis dan semangat kolektif. UHO adalah rumah kita bersama. Mari kita rawat dengan akhlak intelektual dan keberanian moral.

Artikel ini telah dibaca 176 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Rakyat Menjerit, Elit Berkuasa: Sebuah Refleksi Tragis di Usia Ke-80 Kemerdekaan Indonesia

29 Agustus 2025 - 11:15 WITA

Tiga Pilar Keadilan: Pajak, Zakat, dan Wakaf dalam Perspektif Kapitalisme dan Islam

26 Agustus 2025 - 11:10 WITA

Gaza Dilaparkan

17 Agustus 2025 - 19:20 WITA

Gaza Masih Terpenjara: Saatnya Merdeka

13 Agustus 2025 - 14:20 WITA

Mengulik Pencoptan Konstantinus Bukide Sebagai Sekretaris Daerah Buteng

12 Agustus 2025 - 11:52 WITA

Transformasi Digital: Upaya Mengoptimalkan Penerimaan Negara Pada Sektor Pajak

28 Juli 2025 - 11:18 WITA

Trending di Opini