Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Nasional · 23 Mei 2024 15:04 WITA ·

Benteng Kotano Wuna Sabet Rekor MURI Sebagai Benteng Terluas di Dunia


 Presiden PMMI La Ode Riago menerima Piagam penghargaan Rekor Muri yang diserahkan oleh Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri. Foto: Istimewa Perbesar

Presiden PMMI La Ode Riago menerima Piagam penghargaan Rekor Muri yang diserahkan oleh Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri. Foto: Istimewa

PENAFAKTUAL.COM, JAKARTA – Benteng Kotano Wuna yang terletak di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dinobatkan sebagai benteng terluas di Indonesia dan Dunia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Rabu, 22 Mei 2024.

Piagam penghargaan Rekor Muri itu diserahkan oleh Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri kepada Presiden Perhimpunan Masyarakat Muna Indonesia (PMMI) La Ode Riago didampingi Sekjen LM Darmin, Ketua DPW PMMI Jakarta Raya M Aris Achmad beserta seluruh pengurusnya dan juga di hadiri perwakilan Pemerintah Daerah Muna Sulawesi Tenggara.

Yusuf Ngadri menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi terhadap sejarah, tetapi juga sebagai penghormatan atas perlawanan masyarakat Muna terhadap penjajah.

Usai menerima piagam Muri, La Ode Riago  merasa bersyukur dan bangga atas penghargaan tersebut dan menegaskan bahwa Benteng Kotano Wuna adalah salah satu cagar budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Muna

“Alhamdulillah pada hari ini bertempat di kantor MURI di Jakarta, kami Persatuan Masyarakat Muna Indonesia dan juga perwakilan pemerintah Kabupaten Muna menerima Rektor Muri. Cagar Budaya Benteng Kota Wuna sebagai benteng terluas di dunia,” kata Presiden PMMI La Ode Riago, Kamis, 23 Mei 2024.

Lebih Lanjut La Ode Riago menyebut bahwa dengan penghargaan ini Benteng Kotano Wuna tidak hanya menjadi ikon sejarah dan kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian dunia sebagai salah satu benteng terbesar dan tertua yang pernah ada.

“Ini adalah prestasi yang luar biasa bagi Kabupaten Muna dan Indonesia”, tukasnya.

Ia pun mengimbau dan meminta kepada semua pihak agar memerhatikan seluruh warisan budaya yang ada di wilayah Kerajaan Muna terkhusus Benteng Kotano Wuna ini agar terus dirawat dan dipelihara sebagai salah satu ikon Kabupaten Muna dan Sulawesi Tenggara.

“Tentu dengan ada Rekor Muri ini, kami pastinya dari PMMI akan terus merawat, menjaga, memelihara benteng maupun situs-situs yang ada di Kota Wuna,” tutupnya.

Selaku Ketua PMMI, La Ode Riago bersama sama pemerintah akan terus berupaya untuk mendaftarkan Benteng Kotano Wuna ke Kementerian Parawisata, serta lembaga lain bahkan sampai organisasi dunia UNESCO untuk menjadi destinasi wisata dan situs sejarah.

Tentang Benteng Kota Wuna

Benteng tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Muna ke-VII Lakilaponto sekitar tahun 1500. Benteng yang mengelilingi Kerajaan Muna ini memiliki panjang 8,73 kilo meter, dengan ketinggian 4 meter dan tebal 3 meter serta luas 163,9 hektar.

Benteng Kotano Wuna ini juga ternyata lebih tua dari benteng Kesultanan Buton dan lebih panjang serta lebih luas. Dimana, benteng kesultanan Buton hanya memiliki panjang 2740 meter, tebal 1-2 meter dengan ketinggian 2-8 meter luas 23,75 hektar.

Benteng Kotano Wuna terletak sekitar 300 meter dari Masjid Muna ke arah selatan. Benteng ini terletak di antara bukit-bukit yang disusun rapi, menghubungkan satu bukit dengan bukit lainnya. Topografi wilayah Kota Wuna berbentuk cekung dan diapit oleh bukit-bukit.

Benteng mengelilingi seluruh wilayah kota wuna di kecamatan tongkuno sebagaimana di ungkap Jules Couvreur dalam buku sejarah dan kebudayaan kabupaten muna. J Couvreur adalah pegawai pemerintah colonial belanda yang menjabat sebagai Kontroler (setingkat bupati) pada tahun 1930-1935.(hus)

Artikel ini telah dibaca 536 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

JMSI Usulkan Perluasan Perlindungan HAM bagi Pekerja Pers, Dewan Pers Respons Positif

8 Februari 2026 - 21:16 WITA

Wali Kota Baubau Yusran Fahim Masuk Nominasi “Golden Leader” JMSI

3 Februari 2026 - 23:24 WITA

FWK Desak Revisi UU Pers, Tegaskan 9 Februari Tetap Hari Pers Nasional

3 Februari 2026 - 23:08 WITA

Surat Edaran BKN: ASN Wajib Gunakan Batik KORPRI Tiap Hari Kamis dan Tanggal 17

27 Januari 2026 - 23:19 WITA

Prabowonomics vs Greedynomics: Pidato Prabowo di Davos Menuai Pujian Akademisi

25 Januari 2026 - 11:14 WITA

Great Institute Nilai Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh dan Prospektif pada 2026

10 Januari 2026 - 18:34 WITA

Trending di Nasional