Menu ✖

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

News · 21 Mei 2023 13:42 WITA ·

Soal Penutupan Jetty di Konut, SBSI Sultra Minta Pertangungjawaban Danrem 143/HO


 Ketua SBSI Sultra Alvian Pradana Liambo, SH., MH Perbesar

Ketua SBSI Sultra Alvian Pradana Liambo, SH., MH

PENAFAKTUAL.COM, KENDARI – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta pertanggungjawaban terhadap Danrem 143/HO atas adanya aktivitas yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan melakukan penutupan jetty di daerah Marombo Kabupaten Konawe Utara (Konut) beberapa waktu lalu.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena dengan adanya aksi penutupan jetty tersebut SBSI menilai ratusan pekerja terancam kehilangan pekerjaannya.

Ketua SBSI Sultra Alvian Pradana Liambo, SH., MH mengatakan, terkait adanya penutupan jetty yang dilakukan oleh oknum TNI di Marombo Kabupaten Konawe Utara berpotensi menimbulkan pengangguran karena terhentinya aktivitas pekerjaan yang rutin dilakukan oleh para pekerja pada kawasan tersebut.

“Tentu aksi tersebut sangat mengkhawatirkan bagi pekerja, yang jelasnya kami tidak menginginkan para pekerja menjadi pengangguran dikarenakan aksi yang dilakukan oleh orang yang mengatasnamakan TNI,” kata Alvian saat ditemui di salah satu tempat di Kendari Minggu, 21 Mei 2023.

Pria yang akrab disapa Cikal ini juga meminta pertanggung jawaban oleh pihak terkait yakni Danrem 143/HO yang juga sempat diberitakan oleh beberapa media telah memerintahkan penutupan jetty di Morombo Konut.

“Sekarang siapa yang akan bertanggungjawab apabila hal yang kami cemaskan (pemutusan hubungan kerja) benar-benar terjadi akibat adanya penutupan jetty di areal pertambangan tersebut,” tanya Cikal.

Menurutnya ketika pemutusan hubungan kerja terjadi diluar dari kontrak yang sudah berlaku hal tersebut akan merugikan buruh/pekerja. Disisi lain, hak hak para pekerja harus diberikan. Hal tersebut mendasari dirinya untuk meminta pertanggungjawaban dari orang-orang yang katanya oknum TNI yang telah menutup aktivitas di Jetty tersebut.

“Kita pahami bersama bahwa TNI memiliki kewenangan untuk pengamanan wilayah teritorial dan juga menjaga kesatuan NKRI tidak untuk memicu persoalan persoalan sosial dalam hal ini menghilangkan lapangan pekerjaan,” tegasnya.

“Kita juga mempertanyakan kewenangan dari oknum TNI tersebut atau lembaga TNI itu sendiri karena setau saya bahwa persoalan pertambangan harusnya di tindaki oleh inspektur pertambangan bukan oleh TNI,” pungkasnya.

Kendati demikian, pihak Korem 143/HO telah mengkonfirmasi pihaknya tidak melakukan penutupan dialokasi tersebut namun sampai saat ini pihak SBSI belum menerima informasi dari pihak buruh atau pekerja di lapangan apakah aktivitas pekerjaan sudah kembali normal atau belum.(**)

Artikel ini telah dibaca 308 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

350 Mahasiswa Pencinta Alam Kumpul di Sultra, TWKM XXXV Usung Isu Hilirisasi Hijau

2 Oktober 2026 - 18:06 WITA

Gerai KDMP Kasilampe Kendari Diduga Langgar Tata Ruang, PUPR Tak Berani Ukur karena Ada TNI

1 Oktober 2026 - 18:34 WITA

Anak 4 Tahun Tewas dalam Kecelakaan Motor dan Truk Kontainer di Jalan 40 Kendari

1 Oktober 2026 - 14:44 WITA

Diduga Angkut BBM Pertalite Subsidi Secara Ilegal, Pria di Muna Ditangkap Polisi

30 September 2026 - 14:10 WITA

Sambut HUT ke-81 TNI, Kodim 1417/Kendari Gelar Program TNI Manunggal Air Bersih

29 September 2026 - 19:03 WITA

Polresta Kendari Bongkar Peredaran Senpi dan Peluru Ilegal, Dua Pelaku Ditangkap

29 September 2026 - 17:37 WITA

Trending di News