Oleh: La Ode Husaini
Eks Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Psikologi UHO
Di hari ketika Kendari meniup lilin ke-195, kota ini justru tenggelam. Bukan dalam gegap gempita pesta, melainkan dalam genangan yang merendam permukiman, menenggelamkan halaman rumah, dan menyesakkan dada. Air bah datang lagi, setia seperti tamu tak diundang yang hafal alamat kita setiap musim hujan.
Ironi di Panggung Internasional
Tahun 2026, Kendari jadi tuan rumah. Bendera United Cities and Local Governments Asia Pacific berkibar. Delegasi dari penjuru Asia Pasifik hadir, membawa nama baik kotanya masing-masing. Namun tuan rumah menyambut mereka dengan jalan yang menjelma sungai, selokan yang muntah, dan warga yang mengevakuasi kasur ke atap.
Preseden macam apa ini? Di momentum ulang tahun, di depan mata dunia, kita justru mempertontonkan luka lama yang tak kunjung sembuh. Banjir bukan sekadar air. Ia adalah cermin dari janji yang hanyut, dari rencana tata kota yang kalah oleh ego pembangunan.
Salah Siapa: Ketika Beton Mengalahkan Resapan
Salah siapa? Pertanyaan itu menggantung di langit Kendari yang kelabu. Setiap tahun air datang, setiap tahun kita bertanya. Jawabannya ada di selokan yang menyempit, tersumbat sampah dan ambisi. Pembenahan drainase belum maksimal, masih sebatas tambal sulam, bukan operasi besar yang menyembuhkan.
Di sisi lain, izin perumahan baru diobral seperti kue ulang tahun. Bukit dikupas, rawa ditimbun, ruang hijau diganti beton. Setiap sertifikat yang ditandatangani adalah satu lagi pori-pori bumi yang tertutup. Air hujan yang dulu diserap tanah, kini ditolak beton, lalu berbalik menyerbu rumah-rumah warga. Kita membangun atap untuk sebagian orang, sambil meruntuhkan langit-langit rasa aman bagi sebagian lainnya.
Humanis: Bukan Sekadar Genangan, Tapi Trauma
Banjir bukan angka ketinggian air di berita. Banjir adalah ibu yang memeluk ijazah anaknya yang basah. Banjir adalah bapak yang menggendong nenek menembus air setinggi dada. Banjir adalah anak sekolah yang sepatunya hanyut bersama buku-bukunya.
Bagi mereka, banjir adalah momok yang datang berulang. Trauma yang diwariskan dari satu musim hujan ke musim hujan berikutnya. Di HUT ke-195 ini, lilin perayaan terasa pahit karena padam disiram air mata sejumlah warga yang kembali mengungsi.
Sudah Bukan Waktunya Saling Tunjuk
Pemerintah Kota Kendari tidak boleh lagi berlindung di balik kalimat “fenomena alam”. Alam hanya mengirim hujan. Manusialah yang mengatur jalannya. Selama ini ikhtiar mengatasi banjir belum sepadan dengan luka yang ditimbulkan. Moratorium izin perumahan di kawasan resapan, revitalisasi drainase yang bukan proyek seremonial, normalisasi sungai yang konsisten, dan penegakan hukum bagi perusak lingkungan adalah pekerjaan rumah yang sudah kedaluwarsa.
Ulang tahun adalah momentum berkaca. Di usia 195, Kendari harus memilih: mau terus jadi kota yang merayakan dengan kaki terendam, atau kota yang berani menghentikan air mata warganya?
Di hadapan tamu UCLG ASPAC, kita boleh berbangga dengan tari Mondotambe. Tapi dunia juga mencatat: kota yang hebat bukan yang punya gedung tinggi, melainkan yang sanggup menjaga warganya tetap kering saat hujan turun.
Sebab kota bukan sekadar aspal dan beton. Kota adalah manusia. Dan tak ada perayaan yang lebih bermakna daripada melihat warganya bisa tidur nyenyak, tanpa takut dibangunkan oleh air yang mengetuk pintu.
















