Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Daerah · 9 Mar 2026 11:07 WITA ·

Terjaganya Biodiversitas Pulau Wawonii dan Pentingnya Kolaborasi MultipihaK


 Peneliti Biodiversitas Wawonii dari PT Erdas Dwi Konsultan. Foto: Istimewa Perbesar

Peneliti Biodiversitas Wawonii dari PT Erdas Dwi Konsultan. Foto: Istimewa

KONAWE KEPULAUAN – Upaya menjaga biodiversitas di pulau kecil seperti Wawonii tidak dapat dibebankan pada satu pihak semata. Kompleksitas ekosistem, keterbatasan daya dukung lingkungan, serta beragam tekanan pemanfaatan ruang menuntut pendekatan kolaboratif yang melibatkan dunia akademik, pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah.

Pendekatan inilah yang tercermin dalam kegiatan pemantauan biodiversitas darat dan laut di Pulau Wawonii, khususnya wilayah Wawonii Tenggara, yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2023 hingga 2025. Pemantauan ini dilakukan oleh salah satu Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru, bekerja sama dengan PT Gema Kreasi Perdana (GKP).

Menurut Prof. Danu, Wawonii merupakan wilayah dengan karakter ekologi yang unik dan kompleks. Dalam satu bentang alam, pulau kecil ini memiliki ekosistem mangrove, hutan dataran rendah, hingga hutan ultramafik yang secara geologi kaya mineral dan relatif jarang ditemukan di tempat lain.

“Kondisi seperti ini membutuhkan pengelolaan yang hati-hati dan berbasis data. Tidak cukup hanya dengan asumsi atau narasi sederhana. Di sinilah kolaborasi riset menjadi penting,” ujar Prof Danu.

Riset Kolaboratif, Basis Pengelolaan LingkunganHasil pemantauan menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman hayati di sejumlah titik pengamatan berada dalam kondisi stabil, bahkan meningkat di beberapa lokasi. Dari kelompok fauna, tercatat 27 jenis burung endemik Sulawesi, dengan 16 di antaranya merupakan catatan baru di Pulau Wawonii. Pada kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga merupakan temuan baru dibandingkan data penelitian sebelumnya (Buku “Daftar Jenis Tumbuhan di Pulau Wawonii Sulawesi Tenggara” dan “Pulau Wawonii: Keanekaragaman Ekosistem, Flora, dan Fauna “ yang diterbitkan oleh LIPI tahun 2015).

Temuan ini memperlihatkan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi, sekaligus menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan terbuka.

“Tanpa kolaborasi, data-data ini tidak akan muncul. Perusahaan menyediakan dukungan program, akademisi memastikan metodologi ilmiah, dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab,” jelas Prof Danu.

Selain inventarisasi hayati, tim peneliti juga melakukan analisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, serta kandungan logam berat pada biota ikan. Hasilnya menunjukkan seluruh parameter berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional dan standar internasional.Bagi PT GKP, kolaborasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan pengelolaan lingkungan, khususnya kegiatan reklamasi pasca-tambang.

Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menyampaikan bahwa data hasil pemantauan biodiversitas digunakan sebagai rujukan utama dalam menentukan pendekatan reklamasi yang lebih adaptif dan kontekstual.

“Reklamasi bukan sekadar kewajiban regulasi. Dengan dukungan data ilmiah, kami dapat memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, termasuk tanaman pionir, tanaman pakan satwa, hingga jenis yang berpotensi mengembalikan fungsi ekosistem secara bertahap. Dari sekitar 114 jenis tumbuhan yang teridentifikasi, data tersebut kini menjadi basis pengembangan persemaian (nursery) perusahaan untuk mendukung reklamasi jangka panjang,” ujarnya.

Peran Masyarakat dalam Menjaga EkosistemKolaborasi tidak berhenti pada level perusahaan dan akademisi. Kesadaran masyarakat setempat juga menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekologi pulau kecil.

Sejumlah warga pesisir Wawonii Tenggara mengakui adanya perubahan positif dalam praktik pemanfaatan sumber daya laut. Praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bahan peledak, kini semakin jarang ditemui.

“Sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang pakai bom ikan. Ada sosialisasi dan pengawasan. Kami juga sadar laut ini harus dijaga supaya anak-cucu kami masih bisa melaut,” kata Hasanudin, warga Desa Dompo-Dompo Jaya.

Prof Danu menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan di pulau kecil seperti Wawonii tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya satu jenis aktivitas ekonomi semata.

“Tekanan terhadap ekosistem bisa datang dari berbagai arah. Karena itu, menjaga Wawonii harus menjadi tanggung jawab bersama. Kolaborasi dan kesadaran kolektif adalah kunci agar aktivitas ekonomi dan ekologi dapat berjalan berdampingan,” tutupnya.(red)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

PT TIS Tidak Hadir RDP, Aktivis Desak Hentikan Pembangunan Jetty!

10 Maret 2026 - 22:42 WITA

Ramadhan Berbagi Berkah, BPR Bahteramas Bombana Salurkan Bantuan Sembako

10 Maret 2026 - 22:04 WITA

Persiapan Operasi Ketupat Anoa 2026, Polisi Temukan Jalan Retak dan Rawan Longsor di Kolaka

10 Maret 2026 - 21:54 WITA

Mudik Lebaran 2026, DPRD Bombana Desak Pemda Buka Rute Pelayaran Kasipute-Dongkala

10 Maret 2026 - 19:17 WITA

Pergi Melaut Sejak Minggu, Nelayan Lansia di Muna Dilaporkan Hilang

10 Maret 2026 - 15:14 WITA

Mudik Gratis Kendari–Raha–Baubau, Berikut Jadwal Keberangkatan Kapal

10 Maret 2026 - 13:20 WITA

Trending di Daerah