Menu

Mode Gelap
Tiga Napi Korupsi di Sultra Dapat Asimilasi dari Pihak Ketiga, Salah Satunya Keponakan Gubernur Dari Kebun ke Gerbang Masa Depan: Menghadapi Cemohan dan Mencapai Impian Ridwan Bae: PT SCM dan Perkebunan Sawit Penyebab Banjir di Jalur Trans Sulawesi Korban Tenggelam di Pantai Nambo Ditemukan Meninggal Dunia Pembentukan Kaswara: Langkah Awal Kolaborasi Alumni SMP Waara

Opini · 3 Apr 2023 10:03 WITA ·

Sikap Arogansi Penguasa Tidak Bisa Dibiarkan, Apalagi Minta untuk Dibenarkan


 Jacob Ereste Perbesar

Jacob Ereste

Oleh: Jacob Ereste

Luhut Binsar Panjaitan atas nama Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi lantang menghardik orang di luar pemerintahan agar jangan banyak omong, katanya pada 26 Maret 2023 seperti yang dimuat secara meluas oleh berbagai media massa.

Dia juga mengungkapkan cara kerja dalam sistem pemerintah tidak mudah. Apalagi cuma main-main, katanya, bisa kena OTT (operasi tangkap tangan) seperti yang sudah banyak dilakukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

Lalu atas dasar itu orang yang berada di luar pemerintah — rakyat — katanya tidak boleh banyak omong tentang kebrengsekan kerja pemerintah yang tidak becus ?

Tampaknya, Luhut Binsar Panjaitan lupa — atau tidak paham — bahwa pemerintah itu dibentuk untuk mengurus rakyat. Lha, kalau pemerintah mengurus rakyat tidak becus, bagaimana mungkin rakyat harus mingkem, tidak menegur. Lalu tidak pula boleh mengkritik, misalnya karena pemerintah sering salah mengurus dan membandel. Seperti tata cara warga masyarakat dalam melakukan ibadhah — untuk semua agama yang ada di Indonesia yang acap terlalu jauh dicampuri oleh pemerintah — lalu rakyat merasa perlu menegur, menyampaikan kritik agar dapat segera diperbaiki tentang kebijakan yang tidak bijak itu misalnya, seperti melarang ASN, TNI dan Polri membuat acara buka puasa bersama.

Jika pun pemerintah hendak melarang ASN, TNI dan Polri melakukan acara berbuka puasa bersama, tidaklah perlu menakut-nakuti dengan memakai pandemi Covid-19 yang mereda dan aman. Toh, realitas berbagai pesta yang cukup banyak mengundang kerumunan banyak orang sudah berulang kali dilakukan justru oleh kalangan kerabat pejabat dan keluarganya tanpa kegalauan dengan pandemi Covid-19 yang sudah dianggap klier di negeri ini.

Kalau pun ada kekhawatiran untuk acara buka puasa bersama yang akan dilakukan oleh kalangan ASN, TNI dan Polri itu karena hendak menggunakan anggaran dari kass pemerintah — APBN atau APBD — toh, bisa disebut to the point tidak boleh memakai duit pemerintah. Sehingga ASN, TNI dan Polri bisa merogok koceknya masing-masing untuk iuran atau sumbangan suka rela, terutama dari mereka yang cukup kaya raya bergelimangan duit. Entah dari mana asal usulnya itu.

Rakyat mengkritik kerja pemerintah karena rakyat melihat dan merasakan ada yang tidak becus. Sebab pemerintah harus menunaikan amanah rakyat yang memiliki kedaulatan dan memberikan amanat untuk dilakukan sesuai sumpah jabatan serta tatanan hukum dan perundang-undangan yang harus mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri pejabat yang bersangkutan.

Begitulah pemahaman rakyat ikhwal kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat dan rela memberikan mandat kepada penyelenggara negara untuk mengurus segenap kepentingan rakyat sebagai pemilik negeri ini.

Jadi pejabat negara itu bukan pemilik dari kekayaan apapun yang ada di negeri ini. Pejabat negara itu bagi rakyat hanya sekedar pengurus dari organisasi yang bernama negara. Karena itu, segala sesuatu yang penting — terkait dengan kepentingan rakyat harus dibicarakan dengan rakyat. Dan kalau caranya salah, rakyat punya hak untuk menegur, bahkan mengkritik hingga patut marah bila kebijakan yang tidak bijak itu tetap ngotot dilakukan.

Contohnya yang paling nyata adalah dengan dipaksakannya pengesahan UU Omnibus Law yang cacat prosedur dan cacat hukum itu, pasti akan terus mengundang kemarahan rakyat yang sulit dibendung atau dijinakkan. Karena berbagai sektor dan bidang yang berkaitan dengan kepentingan rakyat jadi terampas oleh kepentingan oligarki yang menjadi musuh besar seluruh rakyat.

Jadi melarang rakyat berpendapat, menyampaikan kritik terhadap pemerintah adalah sikap arogan yang tidak boleh dibiarkan, apalagi hendak minta pembenaran.(***)

Artikel ini telah dibaca 61 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

72 Tahun GMNI, Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri Tentang Tata Kelola SDA

29 Maret 2026 - 21:45 WITA

Menjaga Kebenaran Informasi di Era Disrupsi Media dengan Verifikasi Berimbang dan Etika Jurnalistik

20 Maret 2026 - 20:31 WITA

Menguak Bom Waktu, Perselingkuhan Penguasa dan Pengusaha Kasus di Sektor Tambang Sultra?

18 Maret 2026 - 01:24 WITA

MBG: Makanan Bergizi untuk Anak atau “Gizi Keuntungan” bagi Para Pihak?

15 Maret 2026 - 23:44 WITA

Ritual ‘Air Seni’ di Lobby Mapolda: Saat Botol Plastik Menjadi Penentu Nasib Reformasi Polri

26 Februari 2026 - 09:37 WITA

Kasus ‘Super Flu’ di 8 Provinsi, Muhammadiyah Belum Mengeluarkan Fatwa Spesifik

12 Januari 2026 - 15:05 WITA

Trending di Opini