Menu

Mode Gelap
Rudapaksa Anak Dibawa Umur, Bendahara PT TMS Ditangkap Polisi Bocah di Muna Ditemukan Tak Bernyawa di Pinggir Laut Waspada Penipuan Whatsapp, Ini Modus Terbaru 2024 Sidang Tipikor PT Antam, Hakim Minta JPU Hadirkan Eks Gubernur Sultra Sosok Jenderal yang Sederhana dan Rendah Hati itu Telah Berpulang

Opini · 8 Nov 2023 12:42 WITA ·

Maraknya Kasus Bunuh Diri, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme


 Zumar Perbesar

Zumar

Oleh: Zumar
(Pemerhati Sosial)

Kasus bunuh diri adalah sebuah fenomena sosial yang telah menarik perhatian para ilmuwan, profesional kesehatan mental, dan masyarakat umum selama berabad-abad. Fenomena ini memiliki akar yang dalam dan kompleks yang tidak dapat diabaikan. Dalam era modern yang kompleks ini, penyelidikan ilmiah mengenai kasus bunuh diri telah menjadi sangat relevan, mengingat dampak yang serius yang dimilikinya terhadap individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.

Namun, bunuh diri bukan hanya merupakan topik studi akademik. Ia juga menjadi persoalan yang sangat riil di Indonesia, dengan kasus-kasus yang terus meningkat. Pada bulan Oktober ini saja, telah tercatat setidaknya ada 4 kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan mahasiswa/i. Contohnya, kasus mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang ditemukan tewas di area pintu keluar parkir mall Paragon Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 10 Oktober 2023.

Selanjutnya, kasus mahasiswa UMY yang ditemukan tewas jatuh dari lantai empat asrama putri University Residence UMY pada Senin, 2 Oktober 2023. Tidak berhenti di situ, dua kasus terakhir datang dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok yang meloncat dari lantai 18 sebuah apartemen pada 8 Maret 2023 di Jakarta Selatan, dan yang terakhir, seorang mahasiswa Binus Jakarta yang diduga kuat bunuh diri pada Kamis, 20 Juni 2023, dengan melompat dari lantai VIII kampusnya.

Kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan mahasiswa/i di Indonesia adalah sebuah isyarat yang mengkhawatirkan dan memerlukan perhatian khusus. Beberapa faktor yang berperan dalam hal ini adalah kondisi mental yang tidak stabil dari pelaku, korban merasa depresi berat yang dapat menyebabkan perasaan putus asa dan kehilangan harapan, gangguan kecemasan seperti kecemasan sosial atau gangguan obsesif-kompulsif juga dapat berperan dalam kejadian ini.

Faktor lain penyebab maraknya kasus bunuh diri yaitu faktor stress karena masalah keuangan atau konflik dalam hubungan. Faktor lingkungan juga dapat menjadi penyebab seseorang itu bunuh diri, seperti korban yang mungkin mengalami isolasi sosial, merasa kesepian atau terpinggirkan dari dukungan sosial yang positif.

Pernyataan di atas didukung oleh pertanyaan pakar psikologi keluarga, Nuzulia Rahma Tristinarum yang mengatakan ada beberapa hal yang dapat memicu fenomena bunuh diri tersebut, seperti pola asuh orang tua yang fatherless dan motherless. Ayah ibu ada tetapi tidak pernah hadir penuh, tidak ada attachment yang kuat dan kurang penanaman prinsip hidup.

Kedua, faktor lingkungan dimana banyak informasi yang dapat diperoleh dari dunia maya yang membuat anak kesulitan memfilter isinya. Kemudian tuntutan yang terlalu tinggi dari berbagai sisi, baik internal maupun eksternal yang akan berdampak pada karakter anak (ameera.republika.co.id, Sabtu 21/10/2023)

Dengan semakin banyaknya kasus bunuh diri tersebut, mengapa hari ini kasus-kasus seperti ini tidak dapat dicegah, sebenarnya apa akar permasalahan dari banyaknya kasus bunuh diri ini?
Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi saat ini tidak terlepas dari penerapan sistem sekuler hari ini yang menggambarkan rapuhnya mental generasi. Walaupun telah banyak seminar-seminar, workshop dan buku-buku tentang self love, self motivation dsb, tapi hal ini tidak mampu mencegah seseorang untuk bunuh ini.

Sistem sekuler menciptakan generasi yang cenderung mengambil jalan pintas dan instan dalam menyelesaikan persoalan hidup yang menimpanya, pemuda yang terbentuk adalah pemuda yang gampang menyerah dan gampang mengakhiri hidup. Sistem ini juga menjadi cara pandang kehidupan pemuda-pemudi negeri ini, yang menjadikan standar kebahagiaan hidup pada sesuatu yang bersifat materi seperti ketenaran, kedudukan, harta, seks, dsb yang berusaha untuk didapatkan, namun ketika gagal untuk mendapatkannya maka pemuda/i mudah mengalami depresi.

Kapitalisme juga telah menjadikan seseorang kehilangan jati dirinya sebagai hamba Allah SWT, mereka menjalani hidup sesuka hati, mengikuti hawa nafsunya. Standar halal dan harom pun tidak dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan mereka. Tak heran ketika dihadapkan pada persoalan hidup, solusinya tidak diakitkan dengan pemahaman yang benar.

Padahal solusi persoalan kehidupan manusia hanya ada pada aturan islam yang berasal dari pencipta manusia. Negara sebagai penanggung jawab urusan umat, telah gagal membetuk jati diri generasi saat ini, negara malah mengusung pendidikan sekular-kapitalisme yang semakin menjauhkan manusia dari penciptanya. Maka penerapan sistem kapitalisme hanya akan menambah angka panjang kasus bunuh diri.

Solusi tuntas dari permasalahan ini adalah dengan menerapkan sistem islam yang solusitif. Negara wajib mengarahkan mindset masyarakat yang benar tentang hidup. Setiap warga negara daulah islam akan dibina untuk memahami jati dirinya sebagai hamba allah, sehingga dia berusaha untuk taat dan menjauhi maksiat.

Daulah islam juga akan menerapkan sistem pendidikan yang berasaskan islam dimana melalui pendidikan ini akan melahirkan generasi yang berkepribadian islam dan menguasai tsaqofah islam dan iptek. Maka wajar jika islam mampu melahirkan generasi yang tangguh, bukan generasi rapuh dan mudah menyerah. Oleh karena itu, hanya islamlah yang mampu melahirkan generasi tangguh dan peradaban yang gemilang.
Wallahu A’lam

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Nasib Buruh dalam Kapitalisme Semakin Merana

16 Mei 2024 - 10:27 WITA

Pornografi Mengancam Generasi, Buah Busuk Liberalisasi

30 April 2024 - 09:55 WITA

Berdamai dengan Stres Menggunakan Teknik ‘Tapping’

25 April 2024 - 08:26 WITA

PPN Naik, Rakyat Tercekik

23 Maret 2024 - 17:22 WITA

Kala Hujan Tak Lagi Menjadi Rahmat, Salah Siapa?

13 Maret 2024 - 11:57 WITA

Yusril di Persimpangan Jalan

4 Maret 2024 - 16:25 WITA

Trending di Opini