(Sebuah cerita Fiksi)
Oleh: La Ode Inta
Di lautan samudra, berlayarlah sebuah bahtera tua dan megah bernama “pelangi timur”. Bahtera ini sudah mengarungi lintasan badai, lintasan ombak ganas selama puluhan tahun. Nahkodanya adalah Kapten Jois, pria tua berkumis tebal, selalu memakai topi miring dan punya baju kebesaran dua nomor lebih besar.
Ia sudah berpengalaman dan teruji nyalinya dalam berkecimpung di dunia pelayaran bahkan selama 25 tahun menahkodai bahtera tersebut. Akan tetapi, sayang seribu sayang Bahtera tersebut mulai oleng. Barangkali faktor di makan usia hingga Mesinnya pada berkarat. Awak mulai gelisah. Penumpang mulai melirik bahtera lain, karena soal kenyamanan dalam melintasi belantara samudra.
Namun, Kapten Jois tak peduli soal itu.
“Yang penting bagi dia, saya tetap kapten! Dan nanti, setelah saya pensiun, takhta kapten harus jatuh ke anak saya yakni Letnan Cilik ” kata si Kapten Tua
Dengan gaya sombong dan muka gembira.
Namun Masalahnya hanya satu yaitu si Letnan Cilik bukan cuma belum berpengalaman tetapi ia belum pernah menempuh sekolah di bidang pelayaran itu. Ia juga tak tahu mana kompas, mana remote TV. Tapi si Kapten Tua itu punya ambisi dan rencana besar di balik kekurangan anaknya itu. Ia akan melobi para pemilik saham Bahtera dengan segala upaya, segala daya dan segala cara.
Maka terjadilah di sebuah bilik rahasia di Lambung Kapal
Tersembunyi di gelapnya dek bawah, ada ruang pertemuan eksklusif “bilik Lumpur Laut” tempat para pemodal, penjual jangkar, penyedia makanan awak, dan pemilik tali tambang berkumpul.
Nah Di sinilah si Kapten Tua mulai melobi.
“Tuan-tuan sekalian yang mulia,” katanya sambil menyeka peluh. “Kalau kalian mau, saya jamin, anak saya bisa jadi kapten selanjutnya. Tapi butuh… persuasi kecil.”
Para pemodal melirik satu sama lain. Mereka tahu “persuasi kecil” itu artinya uang pelicin, proyek khusus, dan jatah distribusi logistik dengan label mark-up. Mereka sahut dengan muka riang gembira karena proyek baru nii.
“Kami bisa pertimbangkan pak,” kata si Tuan Rantai, pemilik industri rantai jangkar.
“Asal anakmu menjamin proyek penggantian rantai Rp 10 juta per meter bisa lanjut.”
Kapten menyeringai.
“Beres! Nanti saya buat aturan baru, rantai harus diganti tiap kali bahtera dok perawatan.
Lobi Makin Lucu,
Si Kapten tua itu, mulai sibuk. Ia menyuap Juru Ketik Kapal agar menghapus laporan kerusakan mesin.
Ia menjanjikan kursi istimewa kepada Koki bahtera asal mau memuji Letnan Cilik tiap hari.
Ia bahkan menyuap Burung Camar Pos, supaya pengantar pesan laut, supaya menyebar kan kabar baik Bahwa “Letnan Cilik adalah sang jenius dan sangat diandalkan. Dulu waktu kecil bisa menyusun puzzle peta dunia… meski itu alas piring.”
Sayangnya, Letnan Cilik malah bikin masalah. Pada Suatu pagi ia nyaris menabrakkan Bahtera ke pulau karena ia mengira pulau itu adalah sebuah hawa kabut asap padahal ternyata pulau kecil
“Ah, dia masih belajar Pak ” celetukan Kapten Tua sambil panik. “Semua kapten dulunya begitu kok, pernah salah, kan? Saya pun dulu pernah nyasar ke danau!” kata si Kapten tua itu.
Maka terjadilah Kesepakatan gelap di Tengah Badai
Saat badai besar mendekat, para pemodal mendesak
“Mana jaminan anakmu bisa pegang kendali?”
Kapten Tua gemetar. Ia kemudian berjanji lagi akan bagi-bagi tender makanan, kursi kehormatan, bahkan menghapus pajak rumput laut.
Kesepakatan pun ditandatangani di atas tong minyak:
– Anak Kapten akan jadi pewaris,
– Para pemodal dapat proyek fiktif dan keuntungan jangka panjang,
– Dan semua awak diminta pura-pura kagum.
Maka tibalah di suatu hari Pengangkatan namun buyar
Di mana hari penobatan Letnan Cilik sebagai Kapten Baru, para awak sudah siap tepuk tangan. Tapi sebelum pidato dimulai, Letnan Cilik tersandung tali dan terjungkal ke tong asinan ikan. Semua hadirin pada sambut dengan tawa dan geleng-geleng kepala.
Tertawaan meledak. Bahkan Ikan Terbang di sekitar kapal sempat melompat, seolah ikut malu.
“Tenang! Tenang” teriak si Kapten Tua. “Itu bagian dari tarian penyambutan khas keluarga kami!”
Namun sorotan media laut terlanjur menyebar.
Lobi gelap, proyek fiktif, dan rekaman pertemuan di sebuah bilik rahasia Lumpur Laut bocor lewat radio kerang.
Rakyat Laut Bergerak
Para awak dan penumpang mulai protes. Mereka membentuk gerakan “Laut Jernih Tanpa Warisan”. Mereka menuntut pemilihan kapten dilakukan secara terbuka dan punya jenjang karir.
Karena desakan dan tekanan massa
“Cukup sudah bahtera ini dijalankan seperti warung keluarga!” teriak Nakhoda Muda yang vokal.
Akhirnya, Kapten Tua mundur dengan muka masam. Letnan Cilik dikirim belajar di pulau pelatihan.
Para pemodal kabur, membawa satu tong penuh dokumen MoU palsu.
Pada akhirnya rencana Si Kapten Tua buyar tak sesuai harapan bahkan berakhir malu menutup karirnya sebagai mana ombak tak bisa di wariskan.
lalu, Bahtera pelangi timur akhirnya dipimpin oleh seorang Kapten pilihan awak kapal bernama Kapten Nusa perempuan muda yang dulunya ahli navigator
Dan begitulah, sebuah bahtera akhirnya berlayar lurus. Tanpa lobi gelap. Tanpa warisan turunan. Hanya karena modal kerja keras, integritas, kepercayaan, dan arah kompas yang jelas. Karena di lautan kekuasaan, Nahkoda bukan mereka yang dilahirkan di kabin mewah, tapi yang berani terjun ke gelombang dan belajar menavigasi badai.**)










